Ronde Aktual

Tinju itu Indah

Yani Malhendo: Saya Hidup dari Tinju untuk Tinju

Yani Malhendo dan istri. (Foto: Ist/dok)

Rondeaktual.com, Jakarta – Yani Malhendo, 49 tahun, telah memberikan hampir seluruh hidupnya untuk tinju. Dimulai sebagai pemain tinju, kemudian pelatih, dan pengurus. Semua sudah dikerjakannya. Sudah lengkap.

Yani, asli southpaw, menjadi petinju Indonesia pertama yang pernah terikat kontrak non gelar kelas terbang 10 ronde melawan Manny Paqcuiao, yang 15 Juli 2018 di Kuala Lumpur, Malaysia, menjatuhkan Lucas Mathysse pada ronde 7 untuk kembali menjadi juara dunia.

“Kejadian itu paling melekat dalam ingatan saya,” kata Yani. “Waktu itu kami sudah selesai timbang badan dan selesai pemeriksaan kesehatan. Menjelang pertandingan dinyatakan batal. Pacquiao sakit perut, itu kata promotor di Filipina.”

Kecewa. Tetapi, Yani tetap bangga melihat perjalanan Pacquiao, yang di usia hampir 40 tahun masih bisa menjadi juara dunia.

Sekarang Yani hidup dari tinju untuktinju. “Mau apa lagi? Ya sudah, di sini saja. Saya hidup dari tinju untuk tinju. Kalau dulu petinju, sekarang pelatih,” kata Yani Malhendo di Surabaya, Jawa Timur, akhir pekan lalu saat dihubungi melalui ponselnya.

Yani seorang kidal, pernah juara Indonesia kelas terbang ringan dan kelas terbang. Pernah juara IBF Inter-Contonetal kelas terbang ringan dan juara WBC Inter-Continental kelas terbang super. “Saya pertama juara, kalau tidak salah, 17 April 1990.”

Nama Yani Malhendo cukup kuat di percaturan tinju Tanah Air. Ia mengawali perantauannya dari tempat kelahirannya Bima, Nusa Tenggara Barat, menuju Malang, Jawa Timur. Yani lahir 8 September 1968. Berusia 49 tahun sekarang.

Di Malang ia berlatih tinju dan bertemu dengan pembina tinju seorang tentara bernama (almarhum) FK Sidabalok. Yani di awal karirnya bertanding di kelas terbang ringan, membawa nama Sidabalok Boxing Camp Malang.

Tahun 1986, pria kelahiran Bima ini masuk Pirih Boxing Camp, Jalan Nginden Kota, Surabaya. Tak lama Yani Malhendo merebut sabuk juara Indonesia kelas terbang ringan. Kemudian merebut sabuk juara Indonesia kelas terbang. Yani gagal merebut sabuk juara Indonesia kelas bantam yunior, menyusul kekalahan angka 12 ronde melawan Hengky Wuwungan.

Untuk Indonesia, Yani adalah juara dua kelas dan menjadi juara tiga kelas jika digabung dengan gelar WBC Inter-Continental kelas terbang super yang direbutnya.

“Saya terakhir tanding di Thailand, 16 tahun yang lalu. Waktu itu umur sudah 34 dan saya memutuskan menggantungkan sarung tinju untuk selamanya.”

Berhenti tinju, Yani meneruskan karir sebagai pelatih.”Saya lama berdiri di sudut ring ketika petinju Pirih Boxing Camp Surabaya bertanding. Bisa dibilang waktu itu ada era emas tinju pro kita. Hampir setiap minggu ke Jakarta mendampingi petinju Pirih bertanding. Di masa itu masih ada Om A Seng. Setelah Om A Seng tidak ada, sasana tinju perlahan-lahan habis. Semua gulung tikar.”

Sebelum gulung tikar, Yani masih sempat sebagai pelatih di Sidoarjo, bersama pemilik sasana Damianus Wera. Setelah itu, melalui KONI Jawa Timur, Yani dipercaya mengurus petinju khusus menghadapi PON XIX/2016 Jawa Barat.

Habis PON habis kontrak. “Sekarang saya tidak ke mana-mana, tetapi saya bisa berada di mana-mana. Saya tetap untuk tinju, sampai kapanpun.”

Yani mengaku selalu berpikir bagaimana cara menghidupkan kembali tinju Tanah Air. Tinju amatir dan tinju pro sama tidak ada prestasi.

Ketika Rondeaktual.com bertanya tentang pekerjaan, Yani Malhendo bilang begini: “Pekerjaan saya rahasia, itu tidak bisa diutarakan.” Yani pernah memperoleh bantuan rumah dari pemerintah.

Tentang pertanian? Ini kata Yani Malhendo: “Kadang kalau musim mangga, saya petik dua atau tiga biji. Saya makan di situ, rasanya senang sekali. Semua hasilnya untuk orang yang menjaga tanah. Satu sen pun tidak pernah saya nikmati. Biarlah, yang penting bisa membantu orang.”

TENTANG YANI MALHENDO
Nama: Yani Malhendo.
Lahir: Bima, Nusa Tenggara Barat, 8 September 1968.
Usia: 49 tahun.
Domisili: Surabaya, Jawa Timur.
Pekerjaan: Pelatih tinju.
Nama istri: Ani Syampini.
Anak pertama: Shania Kartika Dewi Yani Malhendo, kuliah di Hang Tuah, Surabaya.
Anak kedua: Wanda Kharisma Yani Malhendo, kelas 1 SMA.
Anak ketiga: Aura Rhamadani Yani Malhendo, kelas 3 SD.

PERJALANAN TINJU YANI MALHENDO
Tahun 1990: Juara Indonesia kelas terbang ringan 48.988 kg/108 lbs.
Tahun 1991: Juara Indonesia kelas terbang 50.802 kg/112 lbs.
Tahun 1995: Juara IBF Inter-Continental light flyweight 48.988 lg/108 lbs.
Tahun 1998: Juara WBC International super flyweight 52,163 kg/115 lbs.

Finon Manullang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *