Ronde Aktual

Tinju itu Indah

Coretan Finon Manullang: Menduga Pertarungan Besar di Tahun 2019

Petinju kelas berat Tyson Fury (Inggris) dan juara dunia WBC kelas berat Deontay Wilder (Amerika Serikat), jelang pertarungan mereka Staples Center, Sabtu, 1 Desember 2018.

Rondeaktual.com, Jakarta – Bila Anda mengikuti pertandingan tinju dunia sepanjang tahun 2018, maka tidak akan sulit untuk menduga pertarungan besar yang akan terjadi pada tahun 2019.

Saya menduga nama-nama tenar seperti Deontay Wilder (Amerika Serikat), Anthony Joshua (Inggris), Saul “Canelo” Alvarez (Meksiko), Gennady Golovkin (Kazakhstan), Manny Pacquiao (Filipina), Terence Crawford (Amerika Serikat), Vasyl Lomachenko (Ukraina), Srisaket Sor Rungvisai (Thailand), akan menyita perhatian dunia.

Menduga pertarungan besar yang akan terjadi pada tahun 2019, saya mulai dari kemungkinan pertarungaan ulang Wilder-Fury.

WILDER-FURY II

Tak pernah jenuh membahas Wilder-Fury. Fury tidak memenangkan pertandingan 12 ronde di Staples Center, 1 Desember 2018. Ia mendesak diadakan tanding ulang (rematch).

Jika Wilder kalah melawan Fury, maka pertarungan ulang harus terjadi paling lambat enam dan itu tertulis dalam klausul kontrak pertandingan. Berakhir draw dan tidak ada keharusan tanding ulang

Aturan tinju yang berlaku di seluruh dunia, bila draw, maka juara tetap juara, bukan mempertahankan gelar.

Untuk pertandingan berikutnya, sang juara harus mempertahankan gelar melawan penantang pertama, yang sudah pasti bukan Fury orangnya, melainkan Dominic Breazeale, yang 15 Desember 2018, menang KO ronde kesembilan atas Carlos Negron.

Bila Wilder mempertahankan gelar atas Fury, maka gelar juaranya berstatus “choice”. Wilder bisa memilih lawan demi mengamankan gelarnya.

Itu aturan. Tetapi, keputusan draw Wilder-Fury menimbulkan kontroversi. Kedua petinju merasa memenangkan pertandingan.

Wilder dua kali menghasilkan knockdown; ronde 9 dan 12. Bila Wilder tidak menjatuhkan Fury pada ronde terakhir, bisa dipastikan gelar juara dunia WBC kelas berat milik Fury. Knockdown terakhir telah menyelamatkan gelar Wilder melalui putusan draw.

Penggemar tinju ingin melihat sekali lagi Wilder-Fury, apalagi di sana ada kepentingan bisnis yang jauh lebih besar.

ANTHONY JOSHUA MENDOMINASI

Bila Wilder-Fury II gagal, maka laga lebih besar adalah unifikasi kelas barat. Juara WBC Wilder versus juara IBF, WBA Super, IBO, WBO, Anthony Joshua. Partai ini paling ditunggu.

Namun Joshua sudah mulai masuk propaganda pertarungan ulang melawan Dillian Whyte di Wembley Stadium.

Bila Wilder lepas dari Fury di pertandingan ulang dan Joshua aman dari serangan Whyte, maka super fight kelas berat Wilder-Joshua bisa terwujud pertengahan tahun 2019. Tidak akan lama lagi keduanya pasti bertemu.

Joshua punya kekuatan besar dalam mendominasi kelas berat. Dia berkuasa dan hebat tetapi tidak bisa dibilang aman. Ingat, ada Oleksandr Usyk, raja cruiserweight dan juara Piala Muhammad Ali World Boxing Super Series. Usyk, yang tidak terkalahkan dari Ukraina, ingin berkompetisi di kelas berat. Hati-hati.

CANELO MENGHADAPI SIAPA

Setelah mengalahkan Golovkin, Canelo seolah berdiri sendiri di atas tanpa saingan besar. Ia telah membuat sejarah menjadi juara dunia di tiga kelas (menengah yunior, menengah, menengah super), setelah menghabisi perlawanan Rocky Fielding. Canelo ingin kembali ke kelas menengah, yang tentu saja lebih menjanjikan bayaran besar.

Soal menghadapi siapa, Canelo tinggal tunjuk. Ia memiliki banyak pilihan. Ada Daniel Jacobs, ada juara interim WBC Jermall Charlo, dan belum tertutup kemungkinan Canelo-Golovkin III.

TERENCE CRAWFORD

Kuat dugaan juara dunia WBO kelas welter Terence Crawford, salah satu anak emas Bob Arum, akan membuat pertarungan besar.

Siapa lawan Crawford, Bob Arum akan mengaturnya. Mari kita lihat kelas welter yang komensial.

Manny Pacquiao mungkin saja. Tetapi, Pacquiao akan mempertahankan gelar WBA regular melawan Adrien Broner, Sabtu, 19 Januari 2019. Bila Pacquiao tergelincir, bukan tidak mungkin Arum cepat-cepat mengurus jadwal besar Crawford-Broner. Terlepas dari sisi buruk di luar ring, nama Broner sangat komersial.

Mari kita lihat juara WBA Super kelas welter yang lebih satu tahun tidak naik ring, Keith Thuman masih dipandang sebagai salah satu yang hebat. Belum pernah kalah, Thurman akan menghadapi penantang tidak terkenal Josesito Lopez di Barclays Center, Brooklyn, 26 Januari 2019.

Juara dunia IBF kelas welter Errol Spence Jr, disebut-sebut sebagai lawan besar bagi Crawford. Spence, yang akan menghadapi juara dunia kelas welter yunior Mikey Garcia, di AT&T Stadium, Arlington, 16 Maret 2019.

Bila Arum gagal mendatangkan Amir Khan ke hadapan Crawford, dan Spence mengubur ambisi Garcia, maka pertarungan besar satu-satunya di kelas welter adalah Crawford-Spence.

 VASYL LOMACHENKO

Vasyl Lomachenko terus bergerak, dari kelas bulu super ke kelas ringan. Ia menjatuhkan juara dunia WBA kelas ringan Jorge Linares. Bulan lalu mengalahkan juara dunia WBO kelas ringan Jose Pedraza.

Lomachenko adalah raja kelas ringan. Haruskah naik kelas untuk mencari pertandingan besar?

Arum orang satu-satunya yang menentukan mau di bawa ke mana Lomachenko.

BAGAIMANA DENGAN PETINJU THAILAND SRISAKET SOR RUNGVISAI

Asia memiliki beberapa bintang besar. Selain Senator Pacquiao yang lebih dulu melambung, dari Thailand ada southpaw Srisaket Sor Rungvisai.

Rungvisai (memiliki catatan 13 kali menang melawan petinju Indonesia) menyandang gelar juara dunia WBC kelas bantam yunior. Rungvisai atau disebut juga sebagai Wisaksil Wangek, kini berusia 32 tahun dengan rekor tanding 47-4-1, 41 KO.

Rungvisai berhasil mengangkat namanya ketika secara tidak terduga-duga menang mayoritas 12 ronde melawan pahlawan tinju Nikaragua, Roman Gonzalez di Madison Square Garden, New York, 18 Maret 2017.

Kalah kontroversial dan tidak puas menghasilkan tanding ulang, yang hasilnya jauh lebih sakit bagi Gonzalez. Serangan kidal Rungvisai menjatuhkan Gonzalez sampai tiga kali pada ronde 4 yang sudah berjalan1 menit dan 18 detik, dan otomatis TKO. Itu terjadi di StabHub Center, California, 9 September 2017.

Kuat dugaan Rungvisai akan membuat pertarungan besar unifikasi melawan juara dunia IBF southpaw Jerwin Ancajas (Filipina), dengan rekor 30-1-2, 20 KO.

Hari ini, 1 Januari 2019, Ancajas genap berusia 27 tahun. Pertandingan terakhirnya di Oracle Arena, Oakland, 28 September 2018, Ancajas hanya mampu bertarung imbang 12 ronde melawan penantang Alejandr Santiago Barrios.

Untuk mencapai kehormatan yang lebih tinggi, Ancajas harus melakukan unifikasi melawan juara WBC Srisaket Sor Rungvisai. Ini pilihan dan sulit dihindari.

Menurut Anda, siapa pemenangnya? Rungvisai atau Ancajas.

Finon Manullang, menulis dari Desa Tridayasakti, Jawa Barat