Ronde Aktual

Tinju itu Indah

Wawancara Lineke Lolowang: Sekarang Era Promotor Martin Daniel

Lineke Lolowang di atas ring tinju Kampus ASMI, Pulomas, Jakarta, Sabtu, 6 April 2019. (Foto: Finon Manullang)

Rondeaktual.com, Jakarta – Lineke Lolowang adalah salah satu penggerak tinju profesinal Tanah Air. Lineke pernah sebagai promotor nasional dan internasional. Salah satu petinju favorit yang pernah diorbitkannya adalah mendiang Adrianus Taroreh.

Lineke sudah lama menggantungkan status kepromotorannya. Sudah bertahun-tahun tidak aktif. Tetapi hatinya tidak bisa jauh dari tinju. Selalu ada di sekitar ring tinju dan menyebut Martin Daniel sebagai salah satu promotor paling aktif.

“Saya lagi di Sunter. Ada sparring. Lihat yuk,” katanya beberapa hari yang lalu.

“Kapan sparring berikutnya?”

“Kamis (22/8/2019),” kata Lineke.

Jelang  menyaksikan latih tanding berikutnya di Navas Boxing Camp, Danau Sunter Utara, milik promotor Martin Daniel, saya melakukan wawancara dengan Lineke Lolowang. Berikut petikan wawancaranya.

“Sebelum promotor, Anda petinju?”

“Bukan lah. Waktu itu mana ada tinju wanita. Tinju wanita kan baru saja (mulai dipertandingkan Kejurnas Tinju Wanita pertama di Medan tahun 2005). Sebelum promotor, saya aktif sebagai manajer.”

“Punya petinju siapa saja?”

“Lupa. Tapi yang saya ingat ada Didi Runtulalu, Steven Togelang (meninggal dunia di Bekasi, tahun 2018), Paat Powali (sekarang pelatih di Navas Boxing Camp), dan yang lain.”

“Siapa yang suruh maju sebagai manajer, kalau boleh tahu.”

“Saya manajer tinju karena saya suka tinju. Saya manajer tinju untuk Benteng AMI/ASMI terus manajer Amphibi Marinir. Saya diminta oleh pimpinan camp (Benny Tengker dan Richard Engkeng). Di Amphibi Marinir sempat mengorbit Faris Nenggo.”

“Sebagai promotor, barangkali ada yang suruh?”

“Tidak. Tidak ada yang suruh. Saya promotor tinju karena m+emang suka tinju. Ketika itu memang kurang pertandingan tinju, makanya saya bergerak bikin pertandingan.
Teman-teman dari artis ikut dukung. Ikut panitia, seperti Minggus Tahitu. Istri beliau juga ikut, almarhum Diana Nasution.
Saya bikin pertandingan di Jakarta, di Padang, di Manado. Di mana lagi, lupa.”

“Siapa saja petinju Indonesia yang pernah Ibu Lineke orbitkan?”

“Banyak. Tetapi, yang memang betul-betul kita orbitkan waktu itu Adrianus Taroreh. Kita sempat berharap banyak kepada Adrianus Taroreh. Sayang ya, dia kalah kejuaraan dunia WBA kelas ringan di Jepang.
Saya pernah mendatangkan petinju Australia (Darren Miller) dan bertanding sampai 12 ronde melawan Adrianus Taroreh. Adrianus menang angka dan itu untuk kejuaraan OPBF kelas ringan. Mungkin sekitar 25 tahun yang lampau, di Basket Hall, Senayan.”

“Tinju sekarang bagaimana?”

“Tinju sekarang ya tetap tinju. Tidak berubah. Tapi mungkin kondisinya sudah beda.
Kalau sekarang petinju yang paling dekat diorbitkan untuk partai kejuaraan dunia mungkin Daud Yordan (sudah berusia 32 tahun).
Selain Daud ada yang mau diorbitkan oleh MD Promotions, yaitu Andika Sabu (berusia 23 tahun), dan yang lain. Mereka masih harus banyak bertanding melawan petinju luar, tapi yang bagus. Jangan model ayam sayur.

“Sekarang orang datang nonton tinju gratis. Dulu di era Lineke Lolowang Promotions gratis juga?”

“Dari dulu sampai sekarang masih banyak yang gratis. Tapi kalau saya dulu, yaaa masih bisa lah kita jual tiket. Kita pinjam ilmu door to door.
Waktu itu masih banyak pengusaha yang mau bantu. Kalau sekarang, silahkan lihat sendiri, mereka masih mau bantu tidak. Sepertinya sudah jauh.

“Mengapa Anda memilih berhenti sebagai promotor?”

“Saya tidak akan pernah mau stop jadi promotor. Kalau nanti ada petinju-petinju yang benar-benar super saya akan kontrak mereka. Saya akan promotori pertandingan mereka, tapi tentunya harus ada yang mau jadi sponsor. Tinju harus ada sponsor, biar tidak konyol.”

 

Zainal Tayeb, Martin Daniel, Lineke Lolowang, Kelapa Gading, Jakarta, Jumat, 5 April 2019. (Foto: Finon Manullang)

“Orang bilang tinju pro Tanah Air matisuri. Hidup segan mati tidak mau. Apa sebenarnya yang terjadi?”

“Kita tidak punya petinju, itu yang pertama. Mengapa tidak ada petinju, karena sebagian memilih lari dari tinju dan ikut pertandingan olahraga campur, MMA. Kemudian, petinju amatir berpikir seribu kali untuk terjun sebagai petinju pro. Tinju amatir menyediakan uang. Uang saku, uang makan, uang asrama, uang bertanding, uang hadiah kalau dia berhasil merebut medali.

Tinju pro semakin tertinggal jauh. Sekarang yang saya lihat era promotor Martin Daniel, salah satu yang paling aktif.
Itu keren banget, dengan keadaan ekonomi kita yang lagi lesu, Martin Daniel bisa bikin pertandingan besar. Saya angkat jembol untuk beliau.Saya dan pecinta tinju pasti berharap Martin Daniel bisa terus eksis untuk menciptakan juara dunia yang baru. Jangan bosan dan jangan pernah menyerah.” (finon manullang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *