Ronde Aktual

Tinju itu Indah

KISAH MANTAN PETINJU (7): Dobrax Arter Antara Tinju dan Paranormal

Dobrax Arter dan Slamet Widodo, SH, di Kota Batu, 15 November 2019. (Foto: Finon Manullang)

Rondeaktual.com, Kota Batu – Pekan lalu saya berada di Kota Batu dan bertemu dengan mantan petinju top Sawunggaling Surabaya, Dobrax Arter, D3 jurusan pemasaran.

Saya juga bertemu dengan abang Dobrax, Slamet Widodo, SH, yang dulu bertinju di Rawajali Surabaya dengan nama John Lee.

Mereka lima saudara laki dan semua terjun sebagai petinju pro tanpa proses amatir. Diawali yang tertua almarhum Joko Arter, disusul Tejo Arter, Kid Manguni, Jon Lee, dan Dobrax Arter.

Dobrax lahir di Kota Malang, Jawa Timur, 5 Juni 1974. “Tanggal kelahiran saya sama dengan presiden RI pertama, 5 Juni,” kata Dobrax, 45 tahun. Dia sangat mengagumi Bung Karno.

Dobrax bekerja sebagai pelatih tinju Yon Bekang 2 Kostrad Malang. “Kalau malam saya jaga parkir di tempat kafe, daerah Merbabu. Itu di Malang,” katanya.

Belakangan Dobrax mulai dikenal sebagai dukun, meski tidak ikut dalam persatuan paranormal Indonesia.

TENTANG NAMA: Dobrax sebenarnya bernama Rame. Di masa kecil tidak mau sekolah kemudian ganti nama menjadi Wicahyono. Setelah masuk tinju menjadi Dobrax Arter dan terkenal.

TENTANG TINJU: Dobrax jatuh-bangun mengejar karir tinjunya yang singkat bersama promotor A Seng Herry Sugiarto, ketika itu. Sempat comeback dan bertanding di tempat yang mewah, Balai Sarbini Convention Hall, Jakarta, 16 Agustus 2016. Dobrax kalah angka melawan seorang tentara bernama Jason Butarbutar, yang berlangsung dalam kompetisi “Indonesia Mencari Juara Kelas Bulu”.

Dobrax terakhir naik ring di Surabaya, 17 Desember 2016, mengalahkan Selsius Rumlus.

“Tahun lalu saya mau tanding lagi di Pacitan, eh batal. Saya dan petinju lain sudah timbang badan. Ada Inspektur Pertandingan dari KTPI Jakarta. Wasit/hakim juga sudah datang. Pas mau main dinyatakan batal. Seharusnya promotornya diperiksa dulu. Cek kontrak petinju. Sudah bayar belum. Kalau belum hentikan. Ini tidak, malah dibiarkan. Pas mau main baru dikasih tahu batal. Kecewanya bukan main. Setelah kasus Pacitan saya berhenti. Istri juga melarang saya bertanding. Suda tua, bilangnya gitu.”

Dobrax bertinju mulai kelas terbang dan juara sampai kelas ringan. Dia juara Indonesia dan juara WBF, era promotor A Seng Herry Sugiarto.

“Saya naik ring pindah-pindah. Dari kelas terbang sampai kelas ringan. kelas. Saya dulu juara Indonesia. Juara WBF, rebut di Surabaya, mengalahkan petinju Filipina. Juara IBO rebut di Cina,” dia menjelaskan.

TENTANG KELUARGA: Dobrax menyebut dirinya anak kelima.

”Saya bungsu. Semua ikut tinju dan saya satu-satunya yang masih tetap ikut tinju. Sekarang pelatih tinju amatir. Kalau malam jaga partkir. Kalau yang tertua (Joko Arter, petinju Indonesia pertama tampil dalam kejuaraan dunia IBF) sudah meninggal dunia. Tejo Arter (tertua kedua) dagang dan punya kios di Terminal Arjosari, Malang. Namanya Kios Arter, kelihatan di sebelah kiri kalau kita berdiri di dalam terminal. Kid Manguni (tertua ketiga), kabar terakhir mendirikan pondok pesantren di Aceh. Jon Lee (tertua keempat) di Universitas Negeri Malang bagian Pengelolah Pusat Bisnis Umum. Saya bungsu, D3 jurusan pemasaran. Saya dulu kuliahnya di Surabaya, waktu masih tinju.”

TENTANG PETANI: Setelah menggantungkan sarung tinju, Dobrax sempat menekuni pertanian di Malang.

“Sudah bubar,” katanya. “Dulu memang sempat panen, terutama panen tebu. Sekarang sudah habis. Saya kena tipu. Kena mafia tanah dan saya kalah di pengadilan. Sudah selesai. Saya tidak mau ingat. Saya kembali ke tinju.”

TENTANG ANAK: Dobrax mengaku sangat tanggung jawab. Ia selalu mengontrol pelajaran anak-anaknya.
Tetapi, ia juga mengaku kalau dirinya banyak menghabiskan waktu di luar rumah.

“Dari hasil parkir, walaupun tidak seberapa, tapi cukup buat sangu`e anak-anak sekolah. Alhamdulillah anak-anak juga bagus matematikanya. Bulan lalu lomba matematika Malang Raya, anak yang SD kelas1 dan kelas 3 juara satu. Senangnya bukan main. Bangga lah.”

“Ini juga Alhamdulillah saya sudah bertemu dengan Profesor Doktor Guru Besar UIN Malang, ahli matematika. Anak saya dua-duanya mau dididik. Mau dikasih kunci matematika. Gratis.”

TENTANG SELINGKUH: Soal pria yang suka tidur di luar rumah bersama wanita yang bukan istrinya, bagi Dobrax Arter itu tidak baik.

“Itu namanya selingkuh. Insyah Allah nggak lah. Kasihan istri dan malu sama anak-anak kalau sampai terjadi. Eman anak-anakku.”

TENTANG DUKUN: Dobrax sudah lama menekuni karir paranormal. Sering dimintai tolong sama orang-orang dari luar kota untuk bidang pembersihan rumah atau gudang yang sakral banyak hantu dan juga pengobatan alternatif.

“Alhamdulillah sudah banyak yang terbantu masalah sakit dan rumah-rumah yang angker yang banyak setannya.”

Tidak soal hantu saja. Dobrax sering dimintai tolong untuk merukunkan keluarga yang pisah atau rumah tangga sering gegeran.

”Sudah banyak suami atau istri yang tiba-tiba pergi dari rumah selama berbulan-bulan tidak pulang, setelah saya ritual bisa pulang dan saling memaafkan.”

Dobrax sempat dijuluki pawang gila. “Setiap orang gila saya ajak ngobrol. Saya kasih rokok, makan, minum, dan sembuh. Sudah banyak yang terbantu, saya pulangkan ke rumahnya.”

“Semua itu karena Allah. Kita hanya meminta kebesaran-Nya untuk bisa membantu umat manusia ciptaan-Nya.”

TENTANG KMPI: Dobrax masih bisa memberikan waktunya untuk bergabung dengan teman-teman mantan petinju dalam wadah Kebersamaan Mantan Petinju Indonesia (KMPI), yang berpusat di Klojen, Kota Malang.

“KMPI itu tempat nongkrongnya teman-teman dulu (mantan petinju). Datang sini ngobrol. Mau latihan ayo. Ada yang minta di-pad. Ada yang drill. Ada yang minta separing. Sudah pada tua kok masih mau kepalanya dipukulin. Tapi begitulah jiwa mantan petinju, selalu mencari kebahagiaan hidup di sekitar lingkungan tinju itu sendiri. Senang rasanya bisa kumpul kembali bersama dalam suasana tinju.”

Dobrax Arter di pameran bonsai di Kota Batu. (Foto milik Dobrax Arter)

TENTANG DOBRAX ARTER
Nama: Wicahyono.
Nama ring: Dobrax Arter.
Lahir: Malang, Jawa Timur, 5 Juni 1974.
Usia: 45 tahun.
Nama istri: Koesoema Dewi, S.P.
Nama anak: Dhozer Maequesh Sugiarto dan Dhiego Varguash Sugiarto.
Tempat bertinju: Sawunggaling Surabaya, bersama pelatih mendiang Setijadi Laksono dan promotor mendiang A Seng Herry Sugiarto.
Prestasi: Pernah juara Indonesia dan juara WBF.
Bertanding: Kelas terbang hingga terakhir kelas ringan.
Pekerjaan: Pelatih tinju di Yon Bekang 2 Kostrad Malang.
Tempat tinggal: Jalan Kasin Jaya, Gang 3, RT 06 RW 01, (belakang Pasar Kasin Jaya), Kota Malang, Jawa Timur.

Finon Manullang, menulis dari Desa Tridaya, Jawa Barat, finon5000@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *