Ronde Aktual

Tinju itu Indah

Coretan Finon Manullang: Sejarah Pertandingan Kelas Terbang Yunior di Indonesia

Mantan petinju kelas terbang yunior Indonesia; Yani Hagler kidal buatan dan Yani Malhendo kidal asli. (Foto: Ist/dok)

Rondeaktual.com- Petinju kelas terbang yunior Indonesia pernah dikuasai antara lain oleh; Iwan Tubagus Jaya (Garuda Jaya Jakarta), Yani Hagler (Sawunggaling Surabaya), Udin Baharuddin (Pirih Surabaya), Azaddin Anhar (Asmi Jakarta), Yohannes Lewarissa (Tonso Jakarta), Faris Nenggo (Amphibi Jakarta), Andika Sabu (Mirah Bali), Silem Serang (Kota Depok), dan masih banyak.

Dari sekitar 250 petinju kelas terbang yunior Indonesia, dari dulu sampai sekarang, yang paling diingat barangkali Yani Hagler, Udin Baharuddin, dan Azaddin Anhar.

YANI HAGLER
Yani Hagler merebut gelar juara Indonesia kelas terbang yunior dari tangan Iwan Tubagus Jaya. Iwan merebut gelar juara lowong melalui keputusan angka 12 ronde melawan M Yusuf (Banteng Bandung), yang berlangsung di Hailai Ancol, Jakarta Utara, 16 Oktober 1982.

Yani –sempat dikenal sebagai juragan bemo di Malang—terbilang populer. Tahun 1984 mulai mengorbit, dengan gaya kidal buatan dan sengaja tampil plontos botak mengkilap meniru juara dunia kelas menengah yang hebat Marvin Hagler.

Kata orang, Yani Hagler terlalu cepat diorbitkan ketika promotor Boy Bolang mendatangkan juara dunia IBF kelas terbang yunior Dodie Penalosa, petinju Filipina yang kakinya cacat akibat polio sehingga harus bertarung sebagai kidal.

Berlangsung di Istora Senayan, 12 Oktober 1985, disaksikan sekitar 5.000 penonton dan diliput hampir 250 wartawan tulis dan foto.

Pada ronde 4, Penalosa empat kali memukul jatuh Yani Hagler kemudian dihentikan wasit pada ronde itu. Sebagian penonton wanita menangis tidak sampai hati melihat Yani Hagler dibuat jatuh-bangun tanpa perlawanan.

Sebagian uang pertandingan dibelanjakan Yani untuk membeli bemo (becak motor), sebagai jalan untuk menyambung hidupnya di Malang.

UDIN BAHARUDDIN
Udin Baharuddin —meninggal dunia tahun 2017—pernah menjadi juara Indonesia dan masuk peringkat dunia. Udin bersama manajernya Eddy Pirih pergi ke Seoul, Korea, 6 November 1988, menantang juara dunia WBA light flyweight Myung-Woo Yuh. Udin bertarung habis-habisan kemudian KO ronde 7.

Sampai sekarang Myung-Woo Yuh tercatat sebagai juara dunia WBA kelas terbang yunior terbesar. Yuh membuat karir gemilang 19 kali memenangkan kejuaraan dunia dan sekali kalah angka 12 ronde di Jepang melawan Hiroki Ioka.

Pada tahun 2001, ketika saya mulai menangani majalah Ronde di Makaliwe, Jakarta, saya bertemu Udin Baharuddin di lokasi PKL Tanah Abang. Kepada saya, Udin Baharuddin mempromosikan bawang putih tunggal sebagai herbal untuk membuat lelaki menjadi tangguh tak tergoyahkan di atas ranjang.

AZADDIN ANHAR
Azaddin Anhar, sarjana muda perkantoran jebolan ASMI Jakarta, merupakan petinju kelas terbang yunior Indonesia paling popular.

Azaddin datang dari amatir dengan medali emas yang direbutnya di Italia, era Pertina dipimpin Saleh Basarah.

Azaddin terjun ke pro dan dengan cepat merebut gelar juara Indonesia yang sedang lowong, menang KO ronde 12 atas Little Pono di Gelanggang Remaja Jakarta Utara, 15 Desember 1985, yang dipromotori oleh Boy Bolang.

Azaddin naik dan merebut gelar IBF Intercontinental di Tanah kelahirannya, Aceh.

Azaddin bersama guru tinjunya Ferry Moniaga tujuh bulan berlatih di AS dan Meksiko untuk persiapan menghadapi kejuaraan dunia IBF kelas terbang yunior melawan Jum-Hwan Choi (Korea) di Senayan, Jakarta, 9 Agustus 1987. Pertandingan dipromotori oleh Kurnia Kartamuhari, yang berakhir KO ronde 4 untuk kemenangan Choi.

Tahun lalu Azaddin pulang ke Banda Aceh dan menikah dengan seorang guru.

Tadi malam (Selasa, 7/1/2020), saya menghubungi Azaddin melalui ponselnya. Suaranya masih tetap semangat di usia 59. Mengaku setiap hari telan dua telor ayam kampung untuk persiapan pertandingan antarmantan petinju yang tertunda.

Azaddin sudah satu tahun ini kembali menetap di Bantar Gebang, Kota Bekasi. Bekerja di sebuah perumahan. “Jangan ditulis. Malu,” pesannya.

ABDI POHAN
Pada tahun 1990 dan melalui Javanoea Malang tampil Abdi Pohan sebagai salah satu harapan besar di kelas terbang yunior.

Abdi Pohan ditangani manajer Eddy Roempoko dan duet pelatih Wongso Suseno-Movid. Petinju 165 sentimeter ini mendapat kontrak melawan juara dunia IBF light flyweight Muangchai Kittikasem (Thailand) di Bangkok, 10 April 1990. Abdi Pohan bertahan sampai 12 ronde kemudian kalah angka.

Lima bulan kemudian, 10 November 1990 di Medan, Abdi Pohan menantang juara dunia WBO asal Puerto Rico, Jose de Jesus. Pelatih Wongso Suseno melihat pertandingan sudah tidak berimbang dan demi keselamatan petinjunya, ia meminta pertandingan dihentikan. Abdi Pohan TKO ronde 7.

Sepanjang karirnya Abdi Pohan tiga kali kejuaraan dunia (dua kali kelas terbang yunior dan sekali kelas terbang mini).

Abdi Pohan tidak pernah memenangkan kejuaraan dunia. Tetapi, ia pernah menjadi juara IBF Intercontinental kelas terbang yunior, atas peran besar A Seng Promotion.

Promotor A Seng berhasil mengantar sejumlah petinju Indonesia sampai berprestasi di tingkat internasional. Namun kematiannya yang terasa begitu tiba-tiba membuat tinju pro Indonesia ambruk perlahan-lahan. Tidak ada yang bisa mengikuti jejak kepromotoran A Seng, yang terkenal dengan upacannya ”wong piro” kepada rekan-rekan pers.

PETINJU KELAS TERBANG YUNIOR INDONESIA ANTARA LAIN: Damianus Yordan (Kalimantan Barat), Demianus Ahuluheluw (Arseto Jakarta), Faisol Akbar (Akas Probolinggo), Jimmy Suyono (Satria Perkasa Surabaya), Little Pono (Arema Malang), Manahan Pasaribu (Metropolitan Jakarta), Mohamd Chotip (Tjipta Jasa Jember), Nana Suhana (Amar Sport Jakarta), Taufiq Bathi (Satria Yudha Malang), Yani Malhendo (Pirih Surabaya), dan masih banyak lagi.

Finon Manullang, menulis dari Desa Tridaya Tamsel, Jawa Barat, finon5000@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *