Ronde Aktual

Tinju itu Indah

Coretan Finon Manullang: Sejarah Pertandingan Kelas Bulu di Indonesia

Chris John menghadapi Jose Rojas di Tenggarong, 3 Desember 2004. (Foto: Finon Manullang)

Rondeaktual.com – Bicara kelas bulu, orang pasti menyebut nama Chris John.

Tidak ada petinju kelas bulu Indonesia sehebat Chris John, yang membuka karir tinjunya dari bawah.

Bersama pelatih (almarhum) Sutan Rambing di Semarang, Chris John merebut gelar juara kelas bulu Indonesia, kemudian merebut gelar juara kelas bulu PABA (Asia Pasifik), dan puncaknya gelar juara dunia WBA.

Chris John memulainya dari Bali. Di lapangan terbuka, lapangan parkir di depan Musro, 26 September 2003, live Indosiar, Chris John merebut gelar WBA interim featherweight, setelah menang angka melalui pertarungan 12 ronde melawan Oscar Leon (Kolombia).

Itu merupakan hadiah bagi Indonesia, yang menjadi tuan rumah Konvensi ke-72 WBA di Bali. WBA merupakan badan tinju dunia tertua.

Tiga bulan kemudian WBA mendorong Chris John sebagai juara definitive. Sepanjang karirnya, Chris John 10 kali bertanding kejuaraan WBA di Indonesia.

1. GELAR INTERIM WBA, 23 September 2003, Bali: Menang angka 12 ronde atas Oscar Leon (Kolombia).

2. PERTAHANKAN GELAR WBA, 3 Desember 2004, Tenggarong: Wasit menghentikan pertandingan pada ronde 4, setelah dokter melarang Chris John meneruskan pertandingan. Darah menetes dari bagian mata akibat luka benturan sejak ronde kedua. Setelah hitung angka, ternyata imbang tanpa pemenang melawan Jose Rojas (Venezuela).

3. PERTAHANKAN GELAR WBA, 22 April 2005, Jakarta: Menang angka 12 ronde atas Derrick Gainer (AS), yang berlangsung di Studio 5 Indosiar.

4. PERTAHANKAN GELAR WBA, 4 Maret 2006, Tenggarong: Menang angka 12 ronde atas Juan Manuel Marquez (Meksiko). Marquez sempat protes tidak mau turun dari atas ring. Dirinya merasa menang.

5. PERTAHANKAN GELAR WBA, 19 September 2006, Jakarta: Menang angka 12 ronde atas Renan Acosta (Panama).

6. PERTAHANKAN GELAR WBA, 3 Maret 2007, Jakarta: Menang angka 12 ronde atas Jose Rojas (Venezuela).

7. PERTAHANKAN GELAR WBA, 26 Januari 2008, Jakarta: Menang TKO ronde 7 atas Roinet Caballero (Panama).

8. PERTAHANKAN GELAR WBA, 5 Desember 2010, Jakarta: Mengalahkan David Saucedo (Argentina).

9. PERTAHANKAN GELAR WBA SUPER, 17 April 2011, Jakarta: Menang angka 12 ronde atas Daud Yordan (Indonesia).

10. PERTAHANKAN GELAR WBA SUPER, 14 April 2013, Jakarta: Mayority technical draw ronde 3 atas Satoshi Hosono (Jepang). Chris John terluka akibat benturan kelapa.

Dari 10 kejuaraan dunia Chris John di Indonesia, yang paling rumit diliput adalah peristiwa di Gelora Bung Karno Senayan. Super ketat. Setiap orang masuk diperiksa.

Saya tidak memiliki ID Card sehingga harus membohongi petugas sepanjang koridor sambil menenteng tas hitam, yang di dalamnya kamera standard, sikat gigi dan odol. Saya berjalan seolah bagian dari ofisial ring.

Sebelum era Chris John, gelar juara kelas bulu Indonesia disandang Kid Hasan (Gajayana Malang). Ia pernah mengalahkan petinju Korea, Hwang-dee Dai, kelas bulu 10 ronde full di Istora Senayan, 29 Agustus 1981. Saya baru mulai operasi sebagai wartawan.

Lama tidak mempertahankan gelar, Komisi Tinju Indonesia (KTI), badan tinju pro satu-satunya ketika itu, mencopot gelar kelas bulu Kid Hasan. Beda dengan sekarang, biar 10 tahun tidak mempertahankan gelar tidak akan pernah dicopot karena aturan tinju sudah sesuka-suka mereka. Sudah tidak ada peringkat, meski badan tinju banyak di Indonesia.

Tahun 1983 di GOR Pulosari Malang, Joko Arter (Arek Terminal) dari Higam Malang, dinobatkan sebagai juara baru, setelah diumumkan menang TKO ronde 2 atas Agus Panjaitan (Gajayana Malang).

Agus Panjaitan tidak pernah kalah melawan Joko Arter. Dokter melarang pertandingan diteruskan, setelah memeriksa luka di bagian mata kiri Agus Panjaitan cukup parah. Darah terus menetes dan hampir masuk ke dalam mata, yang bisa membuatnya buta.

Wasit melapor kepada Inspektur Pertandingan bahwa terjadi butt.

Bila pertandingan dihentikan di bawah tiga ronde akibat benturan, maka keputusannya adalah technical draw. Tidak boleh ada pemenang.

Namun, malam itu Inspektur Pertandingan ditekan harus ada pemenang untuk mengisi gelar lowong kelas bulu dan itu adalah rezeki Joko Arter.

Masih liputan dari GOR Pulosari Malang, yang terkenal karena penontonnya suka taruhan. Pada 15 Januari 1984, Joko Arter mempertahankan gelar melalui pertarungan berdarah 12 ronde melawan Martinus, yang dijuluki Batu Karang milik Herry Peogoeh Bali, yang juga orbitan coach Daniel Bahari.

Menjelang tengah malam, seorang manajer tinju yang menyimpan puluhan wanita penghibur kelas hotel melati, menawarkan “pertarungan short time” gratis kepada wasit yang baru saja memimpin pertandingan di GOR Pulosari Malang. Sang wasit menolak dan kami didrop di pekarangan di Jalan Letjen Sutoyo, Malang.

Di kamar hotel kami berdua bertengkar. Saling menyalahkan, mengapa tadi pura-pura malu menolak tawaran “gila” dari sang centeng.

Tahun 1984 di Gelora Pantjasila, Jalan Indragiri, Surabaya, dalam tanding ulang, Martinus menjadi juara kelas bulu setelah memaksa Joko Arter berhenti pada ronde 7.

Martinus tidak pernah mempertahankan gelar, karena copot otomatis akibat KO ronde kedua non gelar melawan petinju Korea di Istora Senayan.

Pada Jumat malam, 3 Mei 1985 di Istora Senayan, Alexander Wassa (Cakti Bali) bertarung imbang 12 ronde melawan Monod (Arema Malang).

Monod adalah petinju kelas bulu yunior, yang dipaksa naik ke kelas bulu dengan asumsi lebih gampang bagi Alexander Wassa untuk mengalahkan Monod yang secara fisik jauh lebih kecil.

Mereka salah prediski. Monod mampu mengimbangi Alexander Wassa sampai 12 ronde. Untuk menutup malu di muka mereka, pertandingan itu diumukan draw. Gelar kelas bulu tetap lowong.

Sepanjang sejarah tinju, Komisi Tinju Indonesia (KTI) pernah sekali menyelenggarakan kejuaraan Indonesia kelas bulu tanpa penonton, di Garuda Jaya Jakarta. Dua peringkat atas Alexander Wassa (Cakti Bali) dan Daud Jordan (Scorpio Jakarta) diperintahkan bertarung dan berakhir untuk kemenangan Alexander Wassa. Di tahun kemudian Daud akhirnya menjadi juara.

Alexander Wassa, mantan bintang tinju amatir, sempat menjadi raja kelas bulu Indonesia, meski berkali-kali overweight dan tidak berhak atas gelar juara.

Di GOR Dimyati, Tangerang, 14 Februari 1987, Alexander Wassa merebut gelar kelas bulu Indonesia dari tangan musuh besarnya Rudy Haryanto (Gumitir Jember).

Saya pernah ke Gelanggang Generasi Muda, Cianjur, Jawa Barat, 21 Februari 1993, melihat southpaw Oki Abibakrin (Arseto Jakarta) menghentikan perlawanan Weynan Jurangga pada ronde 7.

Oki menjadi salah satu juara kelas bulu terbaik. Namun karirnya patah ketika naik kelas dan gagal merebut gelar OPBF, yaitu Asia dan Pasifik.

Era tinju televisi pernah menampilkan pertarungan bergengsi antara Soleh Sundava (Bandung) dengan Chris John (Semarang). Chris John menghentikan Soleh Sundava ronde 12 untuk merebut gelar juara kelas bulu PABA, Kaliwates, Jember, 9 November 2001.

Juara kelas bulu selalu pindah tangan. Tahun lalu di Mako Rindam III/Siliwangi, Bandung, malam Jumat, 24 Januari 2019, Zun Rindam (Bandung) merebut sabuk juara KTI melalui TKO ronde 5 atas juara Ahmad Lahizab (Jakarta).

Dianggap terjadi kesalahan, ayah dan pelatih Ahmad, Hendra Julio marah. Wasit kena tuding namun keputusan tetap TKO.

Di Kota Batu, Jawa Timur, 17 November 2019, Ongen Saknosiwi merebut gelar kelas bulu IBA, mengalahkan petinju Filipina, Marco Demecillo.

Sejak sukses Ongen belum ada pertandingan besar kelas bulu. Itu yang terakhir.

Finon Manullang, menulis dari Desa Tridaya Tamsel Jawa Barat, finon5000@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *