Ronde Aktual

Tinju itu Indah

Mantan Juara Indonesia Kid Samora Sempat Kerja Parkir Menghidupi Anak Kembar Tiga

Imam Buchori alias Kid Samora dan manajernya Anthonius Moehartono, SH, tahun lalu di arena tinju HUT Kota Malang. (Foto: Ist)

KISAH MANTAN PETINJU (BAGIAN KE-11) – Kid Samora, 51 tahun, from Trisula Boxing Camp Malang, adalah ayah dari anak kembar tiga. Kita lebih sering mendengar cerita tentang kembar dua. Ini beda. Kembar tiga.

Kid Samora pernah harus bekerja sebagai penjaga parkir di Kayutangan, Jalan Jenderal Basuki Rahmad, Malang. Ia mekukannya untuk menghidupi anak keduanya (kembar tiga), yang dari hari ke hari memerlukan biaya pertumbuhan. Kid Samora seorang ayah yang bertanggung jawab. Tidak memilih-milih pekerjaan, yang penting uangnya “bersih”. Halal.

Sebagai petinju, Kid Samora pernah dua kali menjadi juara Indonesia kelas bantam yunior, kelas yang pernah mengantar Ellyas Pical sebagai juara dunia.

“Pertama juara, saya rebut dari tangan Alloysius Cry (Gonden Hands Jember),” kata Kid Samora. “Saya menang KO ronde sembilan di Hotel Kartika Malang. Kemudian saya lepas gelar. Saya juara lagi, menang KO ronde tiga atas Yossy Amnifu dari Jakarta. Mainnya di Hotel Kartika. Promotor Eddy Rumpoko.”

Sementara, menurut manajer Kid Samora, Anthonius Moehartono, SH, Kid Samora mendapat promosi kejuaraan OPBF. Konsekwuansinya harus melepas gelar juara Indonesia.

Kid Samora gagal di kejuaraan OPBF melawan Marinus Penmaley (Pirih Surabaya). Wasit memutuskan draw. Sempat protes. Wasit dianggap bodoh.

Berikutnya Kid Samora tampil lagi dalam kejuaraan Indonesia kelas bantam yunior. “Saya juara. Saya menang KO ronde tiga atas Yossy Amnifu dari Jakarta,” kata Kid Samora.

“Prestasi tinju saya hanya sampai juara Indonesia. Tidak menyisahkan uang. Orang salah menduga, kalau sudah punya sabuk dianggap banyak uang. Beda kalau sudah juara dunia, seperti Ellyas Pical, pasti kaya raya. Kalau saya cuma juara Indonesia. Tidak ada yang tersisa. Sempat perbaiki rumah orangtua di Kepanjen. Rumah itu sudah tidak ada. Sudah dijual.”

Kid Samora mulai latihan tinju umur 15 tahun. Ia suka berkelahi. Kalau kalah diejek cegeng oleh teman-temannya.

“Saya pergi ke Om Chung (Fighting Chung, seorang pelatih tinju dan pendiri Trisula Boxing Camp di Jalan Slamet Riyadi, Ororodowo, Malang). Om Chung latih saya, dari tidak bisa apa-apa sampai juara. Om Chung orangtua kedua bagi saya, yang menikahkan saya di Kepanjen. Makanya saya yang paling sering ziarah ke makam Om Chung.”

Kid Samora adalah nama ring, yang diberikan pelatihnya Fighting Chung. Kid Samora lahir di Kepanjeng, Malang, Jawa Timur, 14 September 1968, bernama Imam Buchori.

Ketika karir tinjunya sudah mulai menurun, Kid Samora harus mencari pekerjaan agar bisa bertahan hidup.

“Waktu itu saya sudah jarang main, sementara anak dan keluarga membutuhkan biaya hidup. Saya dapat kerja jaga parkir di Kayutangan. Dua tahun saya di sana jadi tukang parkir. Saya dapat kerja parkr dari Mina Mangi (adik mantan petinju top Johni Mangi dan saudara pelari nasional Jublinga Mangi). Mbak Mina yang kasih kerja parkir.”

Setelah jaga parkir, Kid Samora bertemu mantan petinju terkenal Julius Zapata, juga murid pelatih Fighting Chung.

“Saya keluar dari jaga parkir, pindah sebagai security Malang Plaza. Saya jalani selama beberapa tahun. Sekarang saya security di Rubelan Dieng. Sudah mau masuk lima tahun. Itu yang bisa saya lakukan. Sekolah mandeg SMP. Beruntung istri saya (Suhartini) kerja ikut Mbak Susan (putri pelatih Fighting Chung). Sampai sekarang kerja di Salon Prambos.”

KISAH KEMBAR TIGA

Tentang kembar tiga, menurut Kid Samora tidak menduga sebab dokter rumah sakit tidak memberi info yang mengejutkan.

“Seingat saya, istri mengandung sering mual-mual. Tiap hari mual. Itu saja. Istri melahirkan di rumah ibunya di Kepanjen. Mertua saya ahli urut kandungan (semacam bidan kampung). Pas melahirkan ternyata kembar tiga. Istri saya kaget. Proses persalinan kembar tiga berlangsung 30 menit. Tuntas.” Semua anak Kid Samora tamat SMA.

4 ANAK KID SAMORA

1. M. Andri Syamora Putra, anak pertama. Lahir di Kepanjen di rumah neneknya. Sekarang berusia 26 tahun dan bekerja di Malang, sebagai sales orderdil bangunan.

2. Achmad Farid, anak kedua (kembar tiga). Lahir di Kepanjen 18 tahun silam. Sekarang membuka usaha jual bakso di Kuta, Bali.

3. Ikhwan Afandi, akan kedua (kembar tiga). Lahir di Kepanjang 18 tahun silam. Sekarang usaha jual nasi goreng di Kepanjen.

4. M. Faizin, anak kedua (kembar tiga). Lahir di Kepanjen 18 tahun silam. Sekarang bekerja di sebuah pabrik di Mojosari, Majokerto.

Kid Samora, Sabtu, 25 Januari 2020 di Malang. (Foto: Ist)

KARIR TINJU KID KID SAMORA

Berdasarkan keterangan manajer Kid Samora, Anthonius Moehartono, SH, Kid Samora terakhir naik ring di Malang, tahun 2018.

”Samora masih naik ring tahun lalu pas HUT Arema melawan Little Pono. Saya ke Malang ikut mendampingi. Promotornya mantan petinju Ali Aswad,” kata Anthonius. “Takut terjadi apa-apa, pertandingan dihentikan wasit pada ronde dua.”

Di pertandingan itu Kid Samora sudah berusia hampir 50 tahun dan Little Pono 51 tahun. Tidak ada yang terluka. Tetapi, dihentikan demi keselamatan petinju adalah yang terbaik.

Data yang disampaikan Anthonius Moehartono, Kid Samora 38 kali bertanding. Menang 80% (60% KO), kalah 20%, draw 20%.

“Kid Samora kalah melawan Udin Baharudin. Sekali menang dan sekali kalah melawan Junai Ramayana. Kid Samora menang KO ronde 9 atas Alloysius Cry. Menang KO ronde tiga atas Yossy Amnifu. Terakhir Kid Samora kalah angka 12ronde melawan Pirus Boy. Itu di Bontang, Kalimantan Timur. Kalah, Kid Samora kehilangan gelar juara Indonesia kelas bantam yunior,” Anthonius Moehartono menjelaskan.

Sejak kekalahan itu Kid Samora memilih menggantungkan sarung tinju, setelah lebih satu tahun tidak naik ring. Sudah tidak punya gelar. Sudah tidak laku lagi.

Begitulah tinju pro.

Finon Manullang, menulis dari Desa Tridaya Tamsel Jawa Barat, finon5000@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *