Ronde Aktual

Tinju itu Indah

Coretan Finon Manullang: Petinju Top Jatim dari Tahun ke Tahun

Yani Hagler dan gitar yang diproduksinya di Desa Pujon. Yani menjual gitarnya ke mantan petinju Minto Hadi di Malang. (Foto dok)

Rondeaktual.com – Jawa Timur (Jatim) pernah melahirkan sejumlah petinju top Tanah Air. Melalui Wongso Suseno tinju pro Jatim menjadi sangat favorit pada decade 70-an hingga decade 90-an. Itu kenangan tidak terlupakan.

Siapa saja petinju top Jatim masa lalu? Saya mulai dari Freddy Ramschie.

FREDY RAMSCHIE

Sebelum Wongso Suseno menjadi orang pertama merebut gelar OBF (Asia, sekarang menjadi OPBF) di Indonesia, tinju pro mengenal Fredy Ramschie sebagai fighter luar biasa.

Fredy, asal Ambon tinggal di Surabaya, dikenal sebagai Triple Champion Indonesia.

Fredy (almarhum) satu-satunya yang bisa menjadi juara Indonesia di tiga kelas; kelas bantam, kelas bulu yunior, dan kelas welter.

Rekor itu bertahan selama 20 tahun sampai akhirnya disamai oleh Rudy Haryanto dari Jember, disusul Djufrison Pontoh asal Sulawesi Utara bertinju di Jakarta, dan terakhir David Koswara dari Jakarta.

Sejarah tinju mencatat Triple Champion Indonesia ada empat; Fredy Ramschie, Rudy Haryanto, Djufrison Pontoh, dan David Koswara.

KID BALLEL

Kid Bellel dari Surabaya, dikenal sebagai raja kelas menengah Indonesia, sebelum akhirnya datang Rudy Siregar mengambil alih.
Rudy Siregar adalah adik kandung peraih medali perak Asian Games Paruhum Siregar dan famili dekat dengan Syamsul Anwar Harahap, Hendrik Simangunsong.

MS PAGI
Di masa lalu ada juara Indonesia kelas menengah bernama MS Pagi, asal Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur. Ketika tinju pro dihidupkan kembali pada tahun 1970 setelah 10 tahun dibekukan oleh pemerintah, MS Pagi sudah menggantungkan sarung tinju.

TAN KHOK LIEM

Tan Khok Liem dari Surabaya, adalah seorang juara Indonesia kelas ringan. Ia satu generasi dengan Suatman, juga dari Surabaya. Juara lainnya seperti Luluk Uswahir, Jimmy Sinantan, Tubi Lee.

WONGSO SUSENO

Popularitas Wongso Suseno naik setelah merebut gelar OBF kelas welter yunior melalui putusan angka 12 ronde yang menggemparkan melawan juara asal Korea, Chang-Kil Lee, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, 28 Juli 1975.

Sampai sekarang nama Wongso Suseno paling dihormati dan di usianya yang sudah 74 tahun masih bekerja sebagai pengawas perumahan di Malang. Wongso dan keluarga menetap di Pakisaji, Malang, Jawa Timur.

THOMAS AMERICO
Thomas Americo, pemuda sal Bobonaro, Timor Timur, yang pernah diberitakan memukul tukang becak di Malang, hampir saja menjadi juara dunia.

Thomas Americo atau bernama Jimmy Kelton bertarung tanpa duduk sepanjang interval 15 ronde melawan juara dunia WBC kelas welter yunior Saoul Mamby (Amerika Serikat), yang berlangsung di Gelora Bung Karno, Senayan, 29 Agustus 1981.

Meski sudah berusaha diatur agar terjadi tanding ulang di Amerika, namun Thomas Americo kalah angka dan gagal menjadi juara dunia.

MONOD

Permulaan tahun 80-an muncul seorang fighter bertubuh gempal bernama Monod. Nama ini sangat melegenda.

Monod adalah murid kesayangan pelatih Tjipto Moerti. Monod berlatih di Arema Malang bersama pelatih Tan Hwa Swui, yang meneruskan Tjipto Moerti sebagai pelatih Arema.

Sampai sekarang Monod satu-satunya tiga kali menjadi juara Indonesia kelas bulu yunior. Gelarnya hilang kemudian direbut, hilang lagi, dan direbut. Sampai tiga kali. Rekor ini sudah bertahan 31 tahun.

JUHARI

Pada 19 Desember 1982 GOR Pulosari Malang, Juhari dari Gajayana Malang merebut sabuk juara Indonesia kelas ringan melalui kemenangan angka 12 ronde atas juara Kay Siong dari Sawunggaling Surabaya.

Setahun kemudian, GOR Pulosari Malang, 16 Oktober 1983, Juhari merebut gelar OPBF kelas ringan melalui kemenangan KO ronde keenam atas juara Rolando Aldemir (Filipina).

Setelah kehilangan gelar OPBF direbut Jonjong Pacquing (Filipina) di Surabaya, Juhari meneruskan karirnya hingga mencatat rekor tiga kali merebut sabuk juara Indonesia kelas ringan.

Sampai sekarang rekor ini sudah bertahan 28 tahun. Belum tersamai.

WONGSO INDRAJIT

Wongso Indrajit (almarhum) adalah ponakan langsung Wongso Suseno.

Wongso Indrajit, asal Pakisaji, adalah juara Indonesia kelas bantam yunior, yang gelarnya hilang direbut southpaw Ellyas Pical di Gedung Go Skate Surabaya, 11 Desember 1983.

Wongso Indrajit naik kelas dan merebut gelar juara Indonesia kelas bantam melalui kemenangan KO ronde ketiga atas juara Wiem Sapulette dari Jakarta.

Indrajit kemudian melambung dengan gelar WBC International kelas bantam melalui kemenangan angka 12 ronde berdarah-darah melawan Edel Geronimo (Filipina), yang berlangsung di Stadion Mattoangin, Ujungpandang, Sulawesi Selatan, 26 November 1988.

Itu adalah pertandingan tinju pro satu-satunya di Tanah Air yang disaksikan langsung oleh Tommy Soeharto.

RUDY HARYANTO

Boleh jadi kurang terkenal, tetaoi inilah faktanya bahwa Rudy Haryanto (dari Cipta Jasa Jember kemudian Gumitir Jember) adalah penerus Triple Champion Indonesia Fredy Ramschie.

Rudy Haryanto pernah dikontrak sebagai mitra tanding Ellyas Pical, adalah petinju kedua yang berhasil menjadi juara Indonesia di tiga kelas.

Rudy mengawali gelarnya dari kelas bulu, kemudian kelas ringan yunior, dan kelas welter yunior.

Rudy kehilangan sabuk juara kelas welter yunior miliknya di GOR Ngurah Rai Denpasar, kalah melawan Ajib Albarado dari Sawunggaling Surabaya.

Di tahun itu, 1985, Zainal Tayeb mulai aktif di dunia tinju pro.

SAMBUNG

Salah satu bintang tinju asal Raung Boxing Camp Jember adalah Sambung, yang sempat terkenal dengan ucapan khasnya “no god, no god, no god”.

Sambung tidak pernah menjadi juara Indonesia. Tetapi, dia sangat terkenal karena gaya bertinjunya yang berani kuat dan komersial.

Setiap bertanding dan dengan jab-straight yang cepat menyengat Sambung selalu membuat puas penonton. Ia tidak pernah mundur melawan siapa saja. Semua dihadapinya, mulai dari kelas bantam, kelas bulu yunior, kelas bulu, kelas ringan yunior, dan kelas ringan. Sambung adalah petinju lima kelas.

YANI HAGLER

Meski hanya menyandang gelar juara Indonesia, tetapi nama ini mungkin sanga melegenda. Karir tinjunya di masa lalu selalu dikaitkan sebagai juragan bemo. Tapi bemonya sudah lama kena lego. Ia sekarang tinggal di Desa Pujon dan hidup dari hasil membuat gitar dan honor sebagai pelatih tim PON Jatim.

Yani Hagler (lahir di Jayapura besar di Malang) melejit ketika promotor Boy Bolang mengontraknya kejuaraan dunia IBF kelas terbang ringan melawan juara kaki cacat akibat polio, Dodie Penalosa (Filipina).

Pertarungan berlangsung di Gelora Bung Karno, Senayan, 12 Oktober 1985, Yani yang masih dalam suasana berduka atas kepergian ayahanda tercinta seorang pensiunan polisi, jatuh-bangun dihantam pukulan kidal Penalosa. Wasit terpaksa menghentikan pertandingan setelah Yani Hagler empat kali jatuh kenapukul pada ronde ketiga.

Sebagian penonton wanita tidak sampai hati menyaksikan pembantaian di atas ring dan menangis.

NURHUDA

Javanoea Boxing Camp Malang milik Eddy Roempoko pernah melahirkan petinju celana loreng macan tutul bernama Nurhuda.

Nurhuda adalah juara Indonesia di dua kelas, kelas bantam dan kelas bulu yunior. Karirnya naik menjadi juara WBC Junior. Nurhuda bertanding di Stardust Discotheque, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta, support dari Yorrys Raweyai.

Nurhuda gagal menjadi jauara dunia IBF kelas bulu yunior menyusul kekalahan angka atas juara Vuyani Bungu di Afrika Selatan, 4 Maret 1995, atau pas Idul Fitri hari kedua di Indonesia.

ABDI POHAN

Si jangkung penuh tato Abdi Pohan adalah juara Indonesia dan juara IBF International kelas terbang ringan.

Abdi Pohan tiga kali gagal merebut sabuk juara dunia. Dua kali kalah di Thailand dalam kejuaraan dunia IBF kelas terbang ringan dan kejuaraan dunia IBF kelas terbang mini. Sekali TKO ronde ketujuh kejuaraan dunia WBO di Stadion Teladan Medan.

HENGKY GUN

Hengky Gun dari Sawunggaling Surabaya, adalah contoh petinju yang berhasil karena tekun berlatih.

Hengky Gun, kelahiran Namlea besar di Tulungagung, pernah menjadi juara Indonesia, juara OPBF, dan juara WBC International. Semua di kelas ringan yunior.

Hengky Gun adalah petinju Indonesia pertama menang di Jepang. Ia mempertahankan gelar OPBF di Guam dan hanya dibayar 100 dollar AS oleh promotor.

Pelatih Hengky Gun, Setijadi Laksono mengirim surat kepada Presiden Amerika Serikat, George Bush, melaporkan kejadian yang menimpa Hengky Gun. Sampai sekarang sisa bayaran 1.900 dollar AS lagi belum diselesaikan.

Guam adalah pulau di Samudera Pasifik yang menjadi pangkalan tentara Amerika Serikat.

Pada era Hengky Gun tahun 85-an, muncul juga Pulo Sugar Ray atau Pulu Deu Syarifuddin asal Gorontalo, yang menjadi juara WBC Junior dan pernah memukul sopir angkot di Surabaya. Kemudian ada John Arief yang dujuluki “pendekar tangan panjang” karena tangannya dianggap paling panjang untuk ukuran kelas terbang mini. Menyusul Yani Malhendo, juara Indonesia di kelas terbang ringan dan kelas terbang dan juara IBF Intercontinental kelas bantam yunior, dan masih banyak.

MOHAMAD RACHMAN

Satu-satunya petinju asal Jawa Timur yang menjadi juara dunia adalah Mohamad Rachman.

Melalui Akas Boxing Camp Probolinggo dan bersama promotor A Seng, Rachman merebut gelar juara dunia IBF kelas terbang mini. Rachman menang angka 12 ronde atas juara Daniel Reyer (Kolombia) di Kelapa Gading, Jakarta, 14 Desember 2004.

Akas Probolinggo bersama pelatih M Junus terbilang paling banyak menghasilkan petinju internasional. Selain Rachman ada Faisol Akbar dan Bugiarso. Dua nama yang hebat dan berprestasi di jalur IBF Intercontinental dan PABA.

Sementara, Junai Ramayana, Boy Aruan, Agus Ekajaya, Andrian Kaspari, Ricky Matulessy, dan masih banyak lagi, pernah meramaikan bisnis tinju pro Jawa Timur.

Tetapi, setelah kematian A Seng yang menyedihkan, tinju pro Jawa Timur perlahan-lahan gulung tikar dan habis.

Finon Manullang, menulis dari Desa Tridayasakti, Jawa Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *