Ronde Aktual

Tinju itu Indah

Coretan Finon Manullang: Promotor Indonesia dari Tahun ke Tahun

Juara dunia IBF tahun 1985 Ellyas Pical di atas ring, Jumat, 9 November 2018. (Foto: Finon Manullang)

Rondeaktual.com – Saya lupa siapa promotor tinju pertama yang saya kenal.

Seingat saya, antara Amar Singh dan Herman Sarens Soediro.

HERMAN SARENS SOEDIRO

Jenderal bintang satu Herman Sarens Soediro pertama kali menjadi promotor di Istora Senayan, 29 Agustus 1981, kejuaraan dunia WBC junior welterweight antara juara Saoul Mamby (Amerika Serikat) melawan Thomas Americo (Indonesia). Mamby mempertahankan gelarnya.

Di tahun itu, Jakarta memperkenalkan pertandingan tinju bulanan bersama promotor Amar Singh, Manahan Situmorang, Anton Sihotang, dan Halim Susanto.

Herman Sarens menggelar kejuaraan OPBF kelas menengah di Stadion Teladan Medan, 5 Oktober 1985, antara juara Kyung-Min Ra (Korea) melawan Polly Pasireron (Indonesia).
Ronde ketiga, petinju Korea jatuh dan pura-pura tidur kesakitan minta pertolongan agar wasit Prayadsub (Thailand) menjatuhkan dis untuk Polly, yang memukul kepalanya setelah bel berbunyi.

Wasit tidak peduli dan menghitung sampai sepuluh. Polly menang KO dan juara.

Ada 100 promotor Indonesia. Ada Setijadi Laksono, Handoyo Laksono, Harry Effendy, Eddy Pirih, Eddy Roempoko, Harry Sasmita, Goemono, Arief Zackie, Kapten (CHB) FK Sidabalok, Kapten Mustari, Mayor (CHB) Riyoso Saputra, Yongky Susanto, Yulia Marisso Uddin, Thomas Americo, Martin Walewangko, Kurnia Kartamuhari, Wilem Lodjor, Syarifudin Lado, Oktohari, Soeryo Guritno, Dewisari, Dewi Paulus, Sikkat Pasaribu, Syamsul Anwar Harahap, Vicky Permana Putra, Armin Tan, Zainal Tayeb, Tourino Tidar, Temuzin Rambing, Daniel Bahari, Boy Bolang, A Seng dan yang lain.

BOY BOLANG

Dari 100 promotor, boleh jadi Boy Bolang yang sangat spesial.

Boy Bolang membuka era kebangkitan tinju pro secara nasional, setelah mengantar Ellyas Pical menjadi juara dunia IBF kelas terbang super. Elly memukul knock out ronde kedelapan juara bertahan asal Korea, Joo-Do Chun di Istora Senayan, Jumat malam, 3 Mei 1985.

Itu sejarah. Setelah Ellyas Pical juara dunia, pertandingan tinju pro ada di mana-mana.

Boy Bolang hanya tiga menjadi promotor Ellyas Pical kemudian diteruskan Anton Sihotang. Boy sekali menggelar kejuaraan dunia untuk Yani Hagler.

4 KALI BOY BOLANG
1. Senayan, 3 Mei 1985: Promotor IBF super flyweight Joo-Do Chun vs Ellyas Pical. Elly menang KO ronde kedelapan.
2. Senayan, 25 Agustus 1985: Promotor IBF super flyweight Ellyas Pical vs Wayne Mulholland (Australia). Elly menang KO ronde ketiga.
3. Senayan, 15 Februari 1985: Promotor IBF super flyweight Ellyas Pical vs Cesar Polanco (Republik Dominika). Polanco menang angka 15 ronde.
4. Senayan, 12 Oktober 1985: Promotor IBF light flyweight Dodie Penalosa (Filipina) vs Yani Hagler. Penalosa menang KO ronde ketiga.

ANTON SIHOTANG

Anton Sihotang maju sebagai promotor Ellyas Pical dan mendapat dukungan dari Ketua Umum Komisi Tinju Indonesia (KTI), Letnan Jenderal TNI (Purn) Solihin Gautama Purwanegara, yang ketika itu sebagai Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan (Sesdalopbang).

Anton memegang rekor sampai enam kali menjadi promotor Ellyas Pical.

KURNIA KARTAMUHARI

Kurnia Kartamuhari menggelar kejuaraan dunia WBA kelas terbang super antara juara Kaosai Galaxy (Thailand) melawan Ellyas Pical (Indonesia). Galaxy menang TKO ronde 14 di Stadion Utama Senayan, 28 Februari 1987.

Di Istora Senayan, 9 Agustus 1987, Kurnia Kartamuhari menggelar kejuaraan dunia IBF kelas terbang ringan antara juara Jum-Hwan Choi (Korea) dengan Azaddin Anhar (Indonesia). Choi menang KO ronde ketiga.

TOURINO TIDAR

Melalui TT Promotion, Tourino Tidar menggelar kejuaraan dunia WBO strawweight di Senayan, 31 Juli 1990. Juara Rafael Torres (Republik Dominika) menang angka 12 ronde atas Husni Ray (Indonesia).

Di Stadion Teladan Medan, 10 November 1990, Tourino menggelar kejuaraan dunia WBO) junior flyweight. Juara Jose de Jesus (Puerto Rico) menang TKO ronde ketujuh atas Abdi Phan (Indonesia).

Hampir semua petinju Indonesia pernah bertanding bersama promotor Tourino Tidar, yang terkenal dengan Anker Bir Super Fight. Di mana-mana bikin pertandingan dan siaran langsung TVRI secara nasional.

ZAINAL TAYEB

Tinju pro Bali menjadi hidup karena ada Zainal Tayeb, yang . menggelar pertandingan di Denpasar dan beberapa kabupaten. Ia membangun gedung olahraga untuk pertandingan tinju mingguan.

Zainal juga ikut menyelamatkan pertandingan kejuaraan dunia WBA Chris John.

FK SIDABALOK

Pertandingan besar diselenggarakan FK Sidabalok adalah kejuaraan Indonesia kelas welter yunior antara juara Thomas Americo (Marabunta Malang) dengan Jimmy Sinantan (Taman Tirta Surabaya). Berlangsung di GOR Mojopanggung, Banyuwangi, 35 tahun silam. Thomas menang angka 12 ronde.

Jimmy Sinantan mengamuk dan meninju tembok di ruang ganti. Istri, mertua, dan pelatih Suatman tidak dapat memenangkan Jimmy sampai akhirnya dokter pertandingan datang menyuntikan obat penenang. Perlahan-lahan Jimmy lemas dan tertidur.

THOMAS AMERICO

Selain petinju, Thomas Americo pernah maju sebagai promotor. Ia menandingkan dirinya sendiri melawan Supriyo, kelas welter 10 ronde di GOR Pulosari Malang.

Pertandingan berakhir draw. Thomas Americo mengamuk di atas ring sambil menuding-nuding Inspektur Pertandingan.

Tidak ada yang berani mendekat. Semua takut dan semua itu akibat ulah wasit/hakim bermain “gila” yang sengaja melindungi Supriyo dari kekalahan.

Kalau saja para hakim punya hati, pemenangnya adalah Thomas Amerika.

TINTON SOEPRAPTO

Pembalap nasional terjun sebagai promotor tinju hanya Tinton Soeprapto satu-satunya.

Tinton Soeprapto membawa Euis Darliah ke Palu, Sulawesi Tengah. Pada tahun 1985, di lapangan sepakbola dan di atas ring tinju, Euis Darliah menggoyang ribuan penonton dengan lagu yang sangat populer di tahun 80-an; Apanya Dong, ciptaan Titiek Puspa.

Partai utama kejuaraan Indonesia kelas welter yunior antara Bongguk Kendy (Garuda Jaya Jakarta) melawan Suwarno Perico (Sawunggaling Surabaya). Bongguk untuk kedua kalinya mengalahkan Suwarno Perico.

Tahun 1986, Titon Suprapto membawa Vina Panduwinata, salah satu diva musik pop yang melambung lewat tembang Burung Camar. Vina menyanyi di atas ring di atas kolam renang Gajayana Malang.

Pada tahun 1986, Tinton Soeprapto membawa ratu dangdut Elvy Sukaesih ke Stadion Saburai Bandar Lampung.

Ribuan penggemar berjoget sambil menunggu dimulainya partai puncak kejuaraan WBC Junior antara Gerron Porras (Filipina) melawan Pulo Sugar Ray (Indonesia). Pulo memenangkan pertandingan dan pulang ke Surabaya disambut sebagai juara dunia.

Padahal bukan gelar dunia. Jose Sulaiman menciptakan gelar itu untuk memberi kesempatan bagi petinju Asia.

Tinton Soeprapto dua kali mengontrak Boy Bolang bertanding di kelas berat ringan.

Di Stadion Mattoangin Ujungpandang, Sulawesi Selatan, 26 November 1988, Boy Bolang bertarung empat ronde melawan Suwarno (Inra Surabaya). Ini pertandingan main sabun. Suwarno diperintahkan tidak boleh memukul keras dan berakhir draw.

Di Delta Mall Surabaya, Boy Bolang bertanding empat ronde dan draw melawan Solikin (Gajayana Malang).Pada ronde ketiga dan keempat, tali sepatu Boy Bolang sengaja tidak diikat agar lepas, sebagai taktik mengibuli wasit untuk mendapatkan time out agar bisa mengambil napas.

DANIEL BAHARI

Daniel Bahari beda. Menjadi promotor langsung didukung perusahaan besar, yang terkenal dengan tayangan Gelar Tinju Profesional Indosiar bersama host Undang Suhendar dan komentator Syamsul Anawar Harahap.

Daniel Bahri sukses menggelar pertandingan sampai dua kali seminggu.

Puncaknya adalah gelar juara dunia WBA kelas bulu untuk Indonesia melalui Chris John.

A SENG

Dari 100 promotor, menurut Anda siapa promotor paling favorit?

So pasti A Seng.

Mengapa A Seng?

Karena A Seng mampu menghidupkan semangat tinju pro Tanah Air. Ia berani membayar petinju di atas rata-rata. Membantu kehidupan petinju, pelatih, promotor, dan orang-rang di sekitar ring tinju. Ia terkenal dengan sebutan “wong piro” (maksunya berapa media yang datang meliput pertandingannya).

A Seng, sebelum turun sebagai promotor, pernah menyelamatkan Boy Bolang di Bandung.

Di buku Memoar Tinju Profesional disebutkan, Boy Bolang menggelar pertandingan besar di Landmark Convention Hall, Jalan Braga 129, Bandung, Sabtu malam, 14 Desember 1991. Petinju Indonesia menghadapi lawan dari Amerika Serikat, Meksiko, Thailand.

Sampai pukul 18.30 tidak ada petinju yang menuju arena pertandingan. Semua pelatih (Setijadi Laksono, Daniel Bahari, Abu Dhori) memilih duduk di lobi hotel sambil menunggu pembayaran uang petinju.

Boy Bolang menyerah. Kemungkinan pertandingan dibatalkan. Tetapi, tiba-tiba A Seng masuk ke dalam hotel.

Orang-orang tinju melapor bahwa mereka belum dibayar. A Seng mengambil keputusan menjamin semua honor petinju Indonesia dan Thailand. Honor petinju Amerika Serikat dan Meksiko biarlah diurus sendiri oleh Boy Bolang.

Pukul delapan malam bel pertama terdengar dan brakhir menjelang tengah malam.

Usai pertandingan Boy Bolang bicara di hadapan 16 wartawan. Dirinya merasa dibohongi. Acara makan malam bersama penonton dihapus dua jam sebelum pertandingan. Seluruh piring dan gelas dibersihkan dari atas meja.

Finon Manullang, menulis dari Desa Tridayasakti, Jawa Barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *