Ronde Aktual

Tinju itu Indah

Komaruddin Simanjuntak: Anak Petani yang Menjadi Jenderal

Komaruddin Simanjuntak. (Foto: Istimewa)

Rondeaktual.com – Calon Ketua Umum (Caketum) Pertina, Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak, 60 tahun, adalah seorang prajurit sejati yang terlahir dari seorang ibu petani dan ayah petani. Komaruddin lahir di suatu daerah perkampungan Pabambean Simalungun, Kecamatan Panetonga, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

Kerasnya perjuangan hidupnya membuat Komaruddin seperti saat ini. “Dari SMP sampai dengan SMA di Sumsel dan Lampung karena abang saya kebetulan tentara jadi ikut berpindah-pindah. Saya masuk tentarapun bukan dari Pematang Siantar tetapi dari Tanjungkarang,” tutur jenderal pensiun bintang dua ini.

Di Kota Pematang Siantar, Komaruddin “Siantar Man” ini tidak lama. Setelah SD pindah. Tetapi, Sebagai Siantar Man (sebutan bagi perantau asal Pematang Siantar) Komaruddin sangat menyukai olahraga tinju. Ketika menjabat Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) IX/Udayana, ajudannya pernah menyuruh supaya berhenti saat dalam perjalanan di Denpasar, Bali.

“Saya bertanya, ada apa? Ajudan bilang ada pertandingan tinju. Ya sudah kita berhenti. Nonton tinju dulu baru jalan,” kenang Komaruddin.

Prajurit yang pernah dipimpinya selalu terkesan. “Itu karena bila saya diberikan oleh pimpinan untuk menjabat suatu kesatuan, maka tugas pertama saya selalu membangun satuan tersebut sampai betul-betul nyaman untuk dijadikan bekerja dan berlatih.”

Dampaknya berpengaruh kepada kegiatan prajurit. “Dalam benak prajurit bahwa saya selalu berpikir dan berbuat out of the box thingking. Berpikir di luar nalar manusia.”

Ucok Sitompul dan Erzon dalam Silaturahmi Bersatu Hati di Jakarta, 18 Juli 2020. (Foto: Istimewa)

Di kalangan tinju pro ketika menggagas tinju di atas kapal tongkat pada 2011, Komaruddin dikenal dengan sebutan “Antasari Cair”, yang diartikan sebagai Komandan Korem Antasari yang berani mencairkan seluruh bayaran petinju sehari sebelum timbang badan. Biasanya bertanding dulu baru dibayar, sehingga bayaran petinju sering tidak tuntas. Ellyas Pical, sebelum menjadi juara dunia, pernah bertanding tidak dibayar. Promotor melarikan diri. Ujung-ujungnya terpaksa sang manajer yang harus menalangi bayaran Ellyas Pical.

Bombastis juga salah satu gaya kepemimpinan Komaruddin dalam merencanakan dan mempersiapkan suatu kegiatan. “Harus perfecsionis sehingga mampu menunjukkan hasil yang spectakuler dan bombastis. Saya kalau mengerjakan sesuatu harus berani memunculkan yang baru. Harus inovatif,” katanya.

“Kira-kira hal positif seperti itulah, bila Allah SWT, Tuhan YME mengizinkan, maka Pertina ke depan akan berubah total dan akan disegani oleh organisasi tinju dunia. Atlet tinju Indonesia akan menjadi andalan karena Indonesia adalah gudangnya petinju.”

Komaruddin menyebut Muhammad Ali. “Di masa hidupnya, petinju legendaris Muhammad Ali pernah berpesan bahwa hidup adalah sebuah pertaruhan. Petinju Indonesia ke depan harus selalu berpikir untuk menang dalam setiap pertarungan.”

Bagi Komaruddin Simanjuntak, berbeda pilihan itu wajar dalam alam demokrasi. “Berteman itu keharusan karena pertemanan dan persahabatan adalah kekuatan. Tetapi, yang lebih utama adalah bersatu hati.” (rondeaktual.com / finon)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *