Press "Enter" to skip to content

CORETAN AKHIR TAHUN: Tinju Amatir di Ambang Ambruk

Empat petinju pelatnas yang gagal merebut tiket Olimpiade Tokyo.

Rondeaktual.com – Sepanjang 2020 seluruh pertandingan tinju amatir dihentikan. Tinju amatir di ambang ambruk.

Bisa kita bayangkan, jika selama satu tahun tidak ada pertandingan, apa jadinya tinju amatir kita di tahun mendatang. Hilang satu tahun sama saja membangun kembali dari awal untuk bisa mencapai rasa stabil.

Tidak hanya pertandingan yang dihentikan. Jadwal latihan terpaksa dihapus. Pemusatan latihan nasional (Pelatnas) dibubarkan. Petinju dipulangkan ke daerah masing-masing.

Pengurus Pusat (PP) Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) dipaksa harus melakukan dua hal itu; menutup pelatnas dan memulangkan seluruh atlet.

Ketika Pertina melakukan hal itu, banyak menghasilkan marah. Banyak yang pura-pura bego. Pura-pura tidak paham dengan situasi kesehatan global. Berteriak dan menuding terjadi kesalahan di balik penghentian pelatnas. Orang-orang yang hatinya mulai terbelah, memanfaatkan kebijakan Pertina untuk melakukan serangan melalui media sosial WhatsApp.

Padahal, Pertina memang harus mengosongkan pelatnas, sebagai upaya untuk memutus mata rantai Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Banyak yang bisa dilakukan untuk memutus rantai penularan COVID-19. Berdiam di rumah menjadi salah satu solusi terbaik dalam memutus rantai penularan virus tersebut. Orang yang tidak patuh untuk tinggal di rumah bisa terpapar virus Corona.

Setiap orang harus bisa menjaga jarak fisik dengan sesamanya untuk meminimalisasi risiko terkena droplet.

Akhirnya kita semua sadar. Tidak hanya pelatnas dan kegiatan tinju dihentikan, tetapi pesta olahraga terbesar dunia Olimpiade XXXII/2020 Tokyo ditunda setahun.

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, mengusulkan penundaan satu tahun Olimpiade Tokyo 2020, setelah diskusi dengan Presiden International Olympic Committee (IOC), Thomas Bach.

Penundaan tidak dapat dihindari di tengah pandemi COVID-19. Semua menerima.

Sementara, Pemerintah RI menunda penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2020 Papua dan Pekan Paralimpiade Nasional (Papernas) 2020 Papua.

Menunda PON Papua diputuskan oleh Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas, Kamis, 23 April 2020.

Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainuddin Amali menjelaskan, PON XX Papua semula dijadwalkan 20 Oktober hingga 2 November 2020, ditunda menjadi Oktober 2021.

PON 17 KELAS

Sampai saat ini belum ada perubahan kelas yang akan dipertandingkan dalam PON XX Papua.

Seluruhnya ada 17 kelas (10 kelas untuk putra/men`s dan 7 kelas untuk putri/women`s). Tuan rumah Papua akan mengikuti seluruh kelas yang dipertandingkan. Tuan rumah tanpa menjalani kualifikasi.

10 KELAS ELITE MEN`S
1. Kelas pin 46 kilogram.
2. Kelas terbang ringan 49 kilogram.
3. Kelas terbang 52 kilogram.
4. Kelas bantam 56 kilogram.
5. Kelas ringan 60 kilogram.
6. Kelas welter ringan 64 kilogram.
7. Kelas welter 69 kilogram.
8. Kelas menengah 75 kilogram.
9. Kelas berat ringan 81 kilogram.
10. Kelas berat 91 kilogram.

7 KELAS ELITE WOMEN`S

1. Kelas pin 45 kilogram.
2. Kelas terbang ringan 48 kilogram.
3. Kelas terbang 51 kilogram.
4. Kelas bantam 54 kilogram.
5. Kelas bulu 57 kilogram.
6. Kelas ringan 60 kilogram.
7. Kelas welter ringan 64 kilogram.

PRA OLYMPIC WUHAN

Sebelum berita penundaan Olimpiade Tokyo 2020 dan penundaan PON 2020 Papua dikeluarkan, Pra Olympic (kualifikasi Asia dan Oceania) yang dijadwalkan berlangsung di Wuhan, Cina, 3-14 Februari 2020, dibatalkan akibat COVID-19 yang menyerang wilayah tersebut.

Pihak penyelenggara menganggap kesehatan lebih peting dari segalanya. “Penanggulangan terhadap penyakit menular merupakan bagian penting dari rencana kami untuk menyelenggarakan olimpiade yang aman dan terjamin,” kata pihak penyelenggara. “Kami akan terus bekerja sama dengan semua organisasi terkait yang secara hati-hati memantau setiap kejadian penyakit menular dan kami akan meninjau setiap tindakan pencegahan yang mungkin diperlukan dengan semua organisasi terkait.”

Batal di Wuhan, Pra Olympic Asia Oceania digeser ke Amman, Yordania. PP Pertina mengirim empat petinju terbaiknya.

1. Aldoms Sugoro, kelas terbang 52 kilogram, DKI Jakarta.

2. Lucky Hari, kelas bulu 57 kilogram, Nusa Tenggara Timur.

3. Maikhel Muskita, kelas menengah 75 kilogram, Jawa Barat.

4. Silpa Lau Ratu, kelas bulu 57 kilogram women`s, Kalimantan Selatan.

Semua petinju Indonesia yang mengikuti babak kualifikasi olimpiade tidak ada yang berhasil merebut tiket Olimpiade Tokyo. Semua gagal menembus semifinal. Bahkan dua petinju langsung kalah di pertandingan perdananya.

Boleh jadi itu merupakan tanda-tanda tidak ada kemajuan selama mengikuti pelatnas bersama pelatih Barbaro Jimenez dari Kuba dan pelatih Hermensen Ballo dari Nusa Tenggara Timur.

Haruskah ganti pelatih? Kalau masih bisa dipertahankan jangan dulu.

Medio Agustus, PP Pertina membuka Pelatnas untuk menghadapi kualifikasi olimpiade terakhir melalui kejuaraan dunia di Prancis, Mei 2021. Pelatnas dipusatkan di HS Boxing Camp Ciseeng.

Ciseeng sebuah desa yang selama ini asing di telinga publik tinju. Ciseeng sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Ciseeng bisa ditempuh dari Pasar Parung atau Cigombong arah lurus ke Sukabumi.

Di sana, di HS Boxing Camp Ciseeng, yang terletak di Kampung Perigi Mekar, RT 004 RW 03, Kelurahan Perigi Mekar, Kecamatan Ciseeng, setiap hari atlet Pra Olympic berlatih. Mereka ditangani dua pelatih Nasional; Ronny Sigarlaki (Jawa Barat) dan Hermensen Ballo (Nusa Tenggara Timur). Pelatih fisik Dani Hidayat dari Kemenpora. Manajer tim Hengky Silatang, mantan petinju amatir Pertina Lampung.

Para petinju dan dua pelatih tinggal di sana. HS Boxing Camp membangun 12 kamar. Setiap kamar dilengkapi tempat tidur sendiri. Full AC.

Setiap pagi, siang, dan malam, tersedia hidangan yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Setiap hari banyak makanan yang tersisa.

TIM PELATNAS

1. Huswatun Hasanah (Nusa Tenggara Barat), kelas ringan 60 kilogram elite women`s.

2. Aldoms Sugoro (DKI Jakarta), kelas terbang 52 kilogram elite men`s.

3. Lucky Hari (Nusa Tenggara Timur), kelas bulu 57 kilogram elite men`s.

4. Jill Mandagie (DKI Jakarta), kelas bulu 57 kilogram elite men`s.

5. Farrand Papendang (Sulawesi Utara), kelas welter ringan 64 kilogram elite men`s.

6. Daniel Mofu (Jawa Timur), kelas welter ringan 64 kilogram elite men`s.

7. Maikhel Muskita (Jawa Barat), kelas menengah 75 kilogram elite men`s.

8. Hermensen Ballo (Nusa Tenggara Timur), pelatih.

9. Ronny Sigarlaki (Jawa Barat), pelatih.

10. Hengky Silatang (PP Pertina), manajer tim.

Berapa biaya hidup seorang atlet pelatnas, makan dan tempat tinggal, tidak pernah disampaikan secara terbuka.

Finon Manullang, menulis dari Desa Tridayasakti, Jawa Barat.

One Comment

  1. Syamsul siregar Syamsul siregar 29/01/2021

    Prihatin…..semua paham minim prestasi internasional pasti kkesalahan pengurus…..kesalahan pengurus yg berkesinambungan…..karena pengurus sukses berjaya tapi minim prestasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: