Press "Enter" to skip to content

Semalam Jumpa Anto Baret

Anto Baret di atas ring tinju KPJ Bulungan Jakarta, Sabtu, 7 September 2019. (Foto: Dok / Rondeaktual.com)

Rondeaktual.com, oleh Finon Manullang – Semalam (Rabu, 10 Februari 2021) saya sengaja pergi ke Kawasan Bulungan, Jakarta Selatan, untuk dua tujuan. Pertama, mencari Gultik. Kedua, menjumpai orang terkenal bernama Anto Baret.

Di sana, di belakang Blok M Plaza antara Jalan Mahakam dan Jalan Bulungan, ada tikungan yang menjual nasi gulai, yang kemudian populer menjadi nasi gultik. Gulai tikungan.

Nasi Gultik merupakan kuliner yang sudah terkenal sejak dulu. Banyak pedagang gultik mangkal di tikungan jalan tersebut. Rasa gulai yang mereka jajakan membuat lidah ketagihan. Walaupun tergolong kuliner versi kaki lima, gultik Bulungan selalu ramai pengunjung. Dari pejalan kaki sampai bermobil pernah singgah menikmati gultik.

Bulungan bukan hanya terkenal karena nasi gultiknya. Sejak awal 2000-an Bulungan mulai terkenal karena di sana ada sasana tinju.

Pemilik sasana tinju adalah “Kera Ngalam” Anto Baret, terkenal dengan “Kabar Damai”, yang diciptakannya beberapa tahun lalu.

Sasana tinju di Bulungan awalnya bernama Bulungan Boxing Camp Jakarta, kemudian menjadi KPJ Bulungan Boxing Camp Jakarta.

KPJ adalah Kelompok Penyanyi Jalanan, yang didirikan oleh Anto Baret, beberapa dekade silam. Anto Baret telah meluncurkan album berjudul Gonjang Ganjing dan album Salam Satu Jiwa.

Anto Baret memberikan kepercayaan 100% kepada “Kera Ngalam” Little Holmes untuk mengurus KPJ Bulungan Boxing Camp. Sampai sekarang.

Little Holmes adalah mantan petinju amatir Gajayana Malang, yang pernah merebut gelar juara Indonesia kelas bulu yunior. Little Holmes pernah mengalahkan antara lain; Yani Hagler (pertarungan bedarah 4 ronde di GOR Bulungan), Monod, Robby Rahangmetan, dan mengalahkan Ju do Chun (mantan juara dunia IBF kelas bantam yunior yang kehilangan gelar di Istora Bung Karno setelah tumbang KO ronde 8 di tangan Ellyas Pical).

Semalam tidak ada gultik di Kawasan Bulungan. Menurut seorang pria penjual krupuk, gultik dilarang buka selama perpanjangan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta.

Seperti diketahui, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan pihaknya kembali memperpanjang penerapan PSBB di Jakarta dalam menekan penyebaran COVID 19 selama dua pekan.

Kebijakan PSBB yang diterapkan DKI sejalan dengan kebijakan pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro mulai 9 Februari hingga 22 Februari 2021.

Penasaran, karena tidak menemukan gultik di tikungan belakang Mall Blok M. Saya bertanya kepada seorang juru parkir, yang dari cara bicaranya bisa saya pastikan dia “Kera Ngalam.

“Gultik sudah diusir,” katanya. Singkat dan dia pergi mengurus bisnis parkirnya.

Sebelum Kera Ngalam itu melangkah jauh, saya bertanya sekali lagi: “Kalau cari gultik di mana?” Dia menunjuk ke arah pusat kuliner, yang ada di sekitar tikungan sebelum masuk ke sasana tinju milik Anto Baret.

Saya pesan dua piring gultik sekaligus dan segelar air jeruk panas.

Selesai makan, saya pergi ke belakang. Diam-diam mencari Anto Baret.

Diam-diam saya masuk Wapres (Warung Apresiasi). Agak gelap dan setengah buka. Tidak ada orang yang bisa ditanya. Perempuan yang ada di sana menundukkan muka dan sibuk mengurus hpnya. Sementara, di meja sebelah kanan tak jauh dari tempat Anto Baret biasa manggung membacakan puisinya atau bernyanyi, diisi tiga pria yang sedang sibuk menonton aksi demo melalui laptop kecil.

Saya berjalan menuju ring tinju. Dari kejauhan terlihat seorang pelatih memakai topi sedang mengajari muridnya bagaimana cara menyerang lawan dengan jab-straight.

Kepada seorang pria yang duduk di atas batu sambil mengisap rokoknya, saya bertanya di mana orang yang sedang saya cari; Anto Baret.

“Di kantor,” katanya.

“Di mana kantornya?”

“Sebelah.”

Saya balik ke arah gang yang tadi sudah saya lewati dan berdiri di depan sebuah pintu yang terbuka, setelah memastikan orang yang saya cari sedang duduk di dalam dan sepertinya sedang membahas situasi malam bersama dua pria lainnya.

Di kantor itu ada tiga pria. Anto Baret satu-satunya yang saya kenal.

Saya mengetuk pintu sambil menurunkan masker dan menyebut diri kalau saya adalah Finon Manullang.

Anto Baret keluar. Kami duduk di kursi tua di luar kantor. Posisi kami dibatasi jarak satu meter.

Beberapa menit kemudian, Anto Baret berdiri dan baru sadar bahwa lawan bicaranya adalah Finon Manullang.

“Tak kira siapa tadi. Mukanya ketutupan masker,” katanya. Saya tertawa saja.

“Ada apa, Non?” Dari dulu Anto Barat selalu memanggil saya dengan Non. Tidak pernah Finon, apalagi Finon Manullang.

Saya ditawari kopi dan saya tolak. Saya diajak makan –sampai tiga kali—tetap saya tolak. Saya baru saja menghabiskan dua piring gultik.

Anto Baret bertanya tentang diri saya. Tentang kesehatan saya dan saya senang. Terima kasih sudah diperhatikan.

Semalam, merupakan pertemuan pertama sejak Sabtu, 7 September 2019.

Anto Baret mengaku sudah hampir satu tahun tidak melakukan apa-apa. “Tutup semua, Non. Kemarin saja mau bikin Tribute to Gombloh ga bisa. Padahal cuma sembilan meja. Satu meja untuk 10 orang. (Pihak keamanan) sampai minta maaf minta maaf. Tinju juga gitu. Mau bikin pertandingan, meneruskan yang kemarin (pertandingan antarmember di halaman parkir Gelanggang Remaja Jakarta Selatan, Sabtu, 7 September 2019), tidak bisa. Semua tiarap. Padahal pertandingan itu sengaja dibikin pakai piala bergilir. Mengapa? Supaya ada pertandingan berikutnya. Tapi mau apa, situasi sekarang parah. Mau ketemu Iwan (Fals) juga tidak bisa. Takut kena covid. Sudah separah itu. Tapi ini kan tidak di sini saja. Seluruh dunia mengalaminya,” kata Anto Baret, sahabat Iwan Fals.

“Tidak apa-apa,” Anto Baret meneruskan percakapannya. “Yang penting sehat. Tiap hari gerak. Jangan diam. Kita harus bisa menjaga kesehatan sendiri. Ke mana-mana masker. Di mobil jadi banyak masker.” Anto baret diam. Tangan kanannya memijat-mijat bahunya sendiri. “Keras,” ia memuji ototnya sendiri.

Saya berdiri. Memegang ujung bahunya sampai ke bawah. Di usianya yang sudah 63 tahun, ototnya masih kekar. Keras bagaikan besi. Itu berkat latihan besi.

Ketika menggelar pertandingan di halaman parkir GOR Bulungan, Anto Baret tidak ingin setengah-setengah. “Itu di pinggir jalan. Semua orang bisa lihat. Saya tidak mau ada kesan pertandingan tinju jelek, makanya saya pasang riging. Kelihatan mewah.”

“Bikin pertandingan seperti itu, dari mana uangnya?”

“Uang sendiri. Tidak ada sponsor. Saya mau dua tiga kali dulu baru berikutnya sponsor masuk. Itu gagasan saya. Belum jalan, eh sudah berhenti kena covid.”

Lelaki tinggi besar dan rambut gondrong yang pernah menjadi promotor ini menjelaskan, ketika menggelar pertandingan, panitia menerima uang masuk dari pendaftaran member yang bertanding.

“Tidak apa-apa dikutip. Kalau tidak salah 200 ribu per orang. Kalau digratiskan tidak enak sama yang lain. Sudah biasa dikutip, ya ikut saja,” katanya.

Menurut Anto Baret, sejumlah orang telah menyetorkan uang pendaftaran kepada Little Holmes. “Pak Hom (sebutan bagi Little Holmes) sudah terima uang. Uangnya dikembalikan ke orangnya tapi orangnya tidak mau. Saya bilang, Pak Hom, kepercayaan itu harus dijaga. Pak Hom bilang siap. Uang tetap disimpan untuk persiapan pertandingan, jika kegiatan olahraga sudah diizinkan.”

Anto Baret mengaku bangga dengan para mantan petinju Bulungan, yang sekarang menekuni profesi sebagai pelatih privat.

“Saya sudah bilang ke mereka, kamu latihan di sini saja. Muridmu ajak ke sini. Uangnya ambil, asal atur jadwal supaya tidak bentrok dengan yang lain. Kalau dia ikut orang, dapatnya piro. Tapi kalau dia di sini, semua buat dia. Tidak ada potongan.”

KPJ Bulungan Boxing Camp bukan saja sebagai pusat latihan terbuka bagi banyak orang, tetapi sempat menjadi “hotel jam-jaman”. Para pelatih privat tidur siang dan mandi di sana. Masing-masing membawa sabun dan handuk kecil.

Enak ngobrol bersama Anto Baret, tokoh pemusik jalanan yang tetap rendah hati. Popularitas dan sejumlah karya besarnya tak pernah ditonjolkannya.

Sebelum jauh malam, saya pamit pulang. Anto Baret mengantar sampai ke ujung lorong. Saya keluar dari pintu dapur. Kami berpisah.

Finon Manullang, menulis dari Desa Tridayasakti, Jawa Barat.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: