Press "Enter" to skip to content

Coretan Finon Manullang: Tinju Wanita Pertama di Tenggarong

Rondeaktual.com

Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII/2008 Samarinda, Kalimantan Timur, mulai menandingkan tinju wanita. Tersedia tujuh kelas berdasarkan berat badan.

1. Kelas 46 kilogram.
2. Kelas 48 kilogram.
3. Kelas 50 kilogram.
4. Kelas 52 kilogram.
5. Kelas 54 kilogram.
6. Kelas 57 kilogram.
7. Kelas 60 kilogram.

Tidak disebut nama kelas, misalnya, kelas terbang, kelas bantam, dan seterusnya. Tinju wanita pertama di pesta olahraga nasional hanya menyebut berat badan. Terkesan semau gue. Sesuka hati yang bikin. Tidak mengacu pada uturan yang berlaku.

Padahal, kejuaraan tinju wanita Asia yang pertama di Bangkok, Thailand, 25-29 Agustus 2001, sudah diatur kelas yang dipertandingkan:
1. Pinweight 45 kg.
2. Light flyweight 48 kg.
3. Flyweight 51 kg.
4. Bantamweight 54 kg.
5. Featherweight 57 kg.
6. Lightweight 60 kg.
7. Light welterweight 63,5 kg.

Pertandingan cabang olahraga (cabor) tinju PON XVII dipusatkan di Kompleks Olahraga Stadion Perjiwa, Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Hari pertama berlangsung pada Senin, 7 Juli. Pertandingan terakhir atau final pada Senin, 14 Juli 2008.

Tuan rumah Kalimantan Timur mengeluarkan uang besar untuk belanja atlet. Secara diam-diam tetapi resmi, tim khusus datang ke Sulawesi Utara membawa sekarung uang sebagai syarat memindahkan status atlet.

Target harus medali emas. Tetapi sayang seribu kali sayang, Kalimantan Timur yang bergantung kepada atlet yang ditransfer dengan harga tinggi, tidak ada yang berhasil merebut medali emas. Sudah diatur, dengan harga Rp 5 juta untuk setiap kemenangan, namun tetap tidak mencapai sasaran.

Usaha tim pemburu atlet sudah maksimal. Apalagi “pembelian” atlet dilakukan dua tahun sebelum PON berlangsung. Pengprov Pertina Kalimantan Timur telah melakukan strategi berani dengan merekrut petinju wanita dari Sulawesi Utara dan dari DKI Jakarta. Nilai uang untuk ”belanja” atlet cukup tinggi.

Amelia Lontoh, melalui orangutanya sekaligus pelatihnya Marthen Lontoh, bersedia pindah dari Jakarta ke Kalimantan Timur. Langkah Amelia Lontoh patah di pertandingan semifinal dan harus puas dengan medali perunggu kelas 48 kilogram.

Dari Sulawesi Utara dan dengan cara diam-diam “diangkut” beberapa petinju yang berlatih di R.E. Boxing Camp milik Richard Engkeng di Desa Watutumou, Kalawat, Minahasa Utara.

Tetapi, sekali lagi, sayang seribu kali sayang, hanya Agnes Datungsolang –bertanding di kelas 60 kilogram—yang berhasil merebut medali perak. Dalam final, Agnes kalah 14-17 atas Siti Aisyah (Sumatera Utara).

Tinju wanita PON XVII/2008 hanya memberikan empat medali –tiga perunggu dan satu perak—untuk tuan rumah melalui Defrianti Liatahi. Amelia Lontoh, Nurjanah, dan Agnes Datungsolang.

Akhirnya tinju wanita pada PON XVII/2008 Kalimantan Timur didominasi oleh Sumatera Utara dengan merebut dua medali emas melalui Sadarmawati Simbolon kelas 46 kilogram dan Siti Aisyah kelas 60 kilogram.

Satu medali emas masing-masing direbut oleh Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Papua Barat, Maluku, dan DKI Jakarta.

DAFTAR JUARA PON XVII/2008 KALTIM – ELITE WOMEN`S

1. KELAS 46 KILOGRAM
Medali emas: Sadarmawati Simbolon (Sumatera Utara).
Medali perak: Nur Cahya (Papua).
Medali perunggu: Marican Purba (Riau).
Medali perunggu: Tina Pentury (Maluku).

2. KELAS 48 KILOGRAM
Medali emas: Selly Wanimbo (Sulawesi Selatan).
Medali perak: Yunike Rotti (Sulawesi Utara).
Medali perunggu: Rumiris Simarmata (Sumatera Utara).
Medali perunggu: Amelia Lontoh (Kalimantan Timur).

3. KELAS 50 KILOGRAM
Medali emas: Indri Sambaimana (Sulawesi Utara).
Medali perak: Hawaris (Jambi).
Medali perunggu: Defrianti Liatahi (Kalimantan Timur).
Medali perunggu: Mariyam (Sulawesi Tengah).

4. KELAS 52 KILOGRAM
Medali emas: Yunike Busira (Papua).
Medali perak: Syane Holung (Sulawesi Utara).
Medali perunggu: Kristina Simarmata (Sumatera Utara).
Medali perunggu: Getrudis Taek (Nusa Tenggara Timur).

5. KELAS 54 KILOGRAM
Medali emas: Welmi Pariama (Maluku).
Medali perak: Suriati Mabiang (Sulawesi Utara).
Medali perunggu: Suzanna Tuanakotta (Sulawesi Selatan).
Medali perunggu: Yosephina Isoga (Papua Barat).

6. KELAS 57 KILOGRAM
Medali emas: Veronica Nicolaas (Daerah Khusus Ibukota Jakarta).
Medali perak: Lisa Kmuur (Papua).
Medali perunggu: Nurjanah (Kalimantan Timur).
Medali perunggu: Shinta Gesnita (Kalimantan Tengah).

7. KELAS 60 KILOGRAM
Medali emas: Siti Aisyah (Sumatera Utara).
Medali perak: Agnez Datungsolang (Kalimantan Timur).
Medali perunggu: Petty Asmola (Jawa Tengah).
Medali perunggu: Magdalena Kambayong (Papua).

Sejarah tinju wanita di bawah kendali Persatuan Tunju Amatir Indonesia (Pertina) tidak dimulai dari PON XVII/2008, tetapi dari Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2005 di Medan, Sumatera Utara.

Sejak Kejurnas I/2005 Medan, pertandingan tinju wanita terus diselenggarakan di tingkat daerah dan di berbagai invitasi nasonal.

Pada PON mendatang, PON XX Papua, yang akan berlangsung di GOR Cendrawasih, Kota Jayapura, 5 hingga 13 Oktober, tinju wanita menandingkan tujuh kelas:
1. Kelas pin 45 kilogram.
2. Kelas terbang ringan 48 kilogram.
3. Kelas terbang 51 kilogram.
4. Kelas bantam 54 kilogram.
5. Kelas bulu 57 kilogram.
6. Kelas ringan 60 kilogram.
7. Kelas welter ringan 64 kilogram.

Kelas tersebut adalah kelas terakhir dipertandingan. Setelah PON XX/2021 Papua tutup, tinju amatir akan memberlakukan kelas baru.

Finon Manullang
Menulis dari Mess Tinju Kakatua, Balakop, Angkasapura Indah, Jayapura, Papua

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: