Press "Enter" to skip to content

Wawancara Promotor Hodlif Hun: Saya Termotivasi dengan Boy Bolang

Rondeaktual.com

Promotor Hodlif Hun (50 tahun, kelahiran Niki-Niki, 16 Mei 1971) memulai karirnya sebagai manajer tinju di sebuah gang sempit padat penduduk di Jalan Kartini, Jakarta Pusat. Kemudian memulai karir promotor di bawah tekanan harus mengambil uang melalui ATM di malam hari untuk membayar ofisial ring (wasit/hakim).

Bila tidak melakukannya, maka pertandingan perdana yang dipromotorinya dihentikan.

Hodlif Hun tidak berhenti. Belum dua tahun dan di tengah badai pandemic COVID-19, sudah tiga kali promotor dan menjadi empat kali termasuk rencana pertandingan dua hari berturut-turut, 6 dan 7 November di Lapangan Sepakbola Boibalan, Niki-Niki, Kecamatan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Berikut petikan wawancara Hodlif, Rabu, 3 November 2021.

Kalau melihat dari awal, di mana memulainya sebagai manajer tinju kemudian membangun sasana tinju dan puncaknya maju sebagai promotor, Anda terbilang orang yang pantang menyerah dan gila tinju. Anda seorang petinju?

Tidak. Saya tidak pernah bertinju. Saya ini hobi tinju, sejak SMP di Niki-Niki. Saya dulu ikut karate. Sabuk biru di Kupang kemudian ke Jakarta sampai Dan II.

Mengapa memilih tinju?

Awalnya diajak oleh seorang pelatih tinju, Anis Albertus Tubulaw untuk menjadi manajer Patrick Liukhoto. Kondisinya tidak ada job. Saya lihat ada potensi tapi tidak ada jalan. makanya saya inisiatif jadi manajer.
Patrick bagus. Setiap main menang. Saya suka dan itu yang mendorong saya untuk mendirikan sasana Victory Target Jakarta.

Tempatnya kecil. Di gang kecil, tapi saya kepingin untuk memajukan tinju. Kemudian datang Flasidus Nono. Dia latihan sendiri di rumah. Mau hujan mau angin, Flasidus tetap latihan. Semangat sekali.

Tahun lalu ketika pertama maju promotor, malam itu Anda disuruh mengambil uang melalui mesin ATM, bila tidak pertandingan dibatalkan.

Itu pengalaman yang luar biasa dalam hidup saya. Itu pula yang mendorong saya untuk terus berkarya menggelar pertandingan.

Sebagai promotor baru yang tidak tahu apa-apa, akihirnya berantakan. Itu bodohnya saya.

Bodoh itu menjadi spirit untuk maju. Tantangan buat saya untuk melahirkan juara dunia.

Saat ini Pratick Liukhoto sudah juara dunia, meski versi UBO.

Itu catatan tersendiri. Dengan spirit dan modal bodoh tadi, saya yakin pasti ada petinju Indonesia yang menjadi juara dunia dan itu suatu kebanggaan tersendiri buat saya, yang ingin membuat tinju Indonesia maju.

Ellyas Pical juara dunia dari tangan promotor Boy Bolang. Sampai sekarang dikenang. Peran promotor Boy Bolang sangat besar dalam menghidupkan tinju pro. Saya sangat termotivasi dengan Boy Bolang. Saya bangga bisa mengikuti jejak mendiang Boy Bolang.

Kegagalan saya yang pertama adalah tantangan. Kalau orang gagal langsung tenggelam, itu merupakan kematian. Seperti petinju, sekali jatuh terus tidak bangkit lagi, itu bukan petinju namanya.

Saya bukan petinju tapi bermental petinju. Ada pepatah Jepang yang mengatakan, jatuh tujuh kali bangkit delapan kali.

Tanggal 5 Oktober 2021, bertepatan dengan HUT TNI yang ke-76, Anda menggelar pertandingan dunia versi UBO. Mengapa memilih UBO?

Khans kita di situ (UBO). Ini badan tinju dunia yang baru dan ini tantangan.

Kemarin di Kupang, saya bertemu (sambil menyebut nama seorang tokoh tinju terkenal), dia bilang petinju daerah saya itu ayam sayur. Tapi Ketua Panitia Pertandingan, Kolonel (Adm) Thontje Samadara bilang, ayam jago itu berangkat dari ayam sayur. Jadi, kita tidak boleh segampang itu untuk menyerah.

Mengapa tidak memilih WBA atau WBC?

Sabar. Cepat atau lambat, kita pasti ke sana (WBA dan WBC). Kita harus kuat dulu. UBO batu loncatan.

Sekarang Flasidus Nono (juara Indonesia kelas bantam dari Victory Target) sudah mulai mempersiapkan diri untuk kejuaraan WBC Asia.

Kapan petinju Indonesia bisa kembali merebut gelar juara dunia, seperti dulu kita punya Ellyas Pical atau Mohamad Rachman.

Kita tidak dapat mengukur kapan. Tetapi, kita tidak boleh putus asa. Harus berusaha. Saya yakin Indonesia bisa kembali berjaya seperti era Ellyas Pical dan juara dunia lainnya yang pernah kita miliki.

Potensi ke sana ada, yang penting insan tinju harus punya kepedulian. Mari kita peduli terhadap kehidupan petinju, ini sangat penting. Petinju kita mau bertanding baru siap. Kita harus punya sasana untuk support mereka. Support kehidupan mereka sehari-hari.

Masalah yang dihadapi petinju Indonesia adalah kehidupan sehari-hari. Perlu makan. Petinju kita cari duit dulu baru latihan. Kalau sudah dapat duit, pasti mementingkan pekerjaannya. Tinju menjadi nomor kesekian.

Mari kita semua peduli. Kita harus memperhatikan kehidupan mereka. Mereka harus fokus latihan dan bertanding.

Memang, mengurus tinju butuh uang besar. Tapi kalau niat pasti jalan. Saya bukan orang kaya, tapi pikiran saya bagaimana agar petinju Indonesia bisa merebut prestasi.

Niat saya besar dan selalu berdoa. Petinju saya setiap hari berdoa dan latihan. Mereka latihan dan latihan. Itu pekerjaan mereka.

Sebentar lagi menggelar pertandingan tinju di Niki-Niki. Mengapa sampai dua hari berturut-turut?

Saya lahir di Niki-Niki. Di kampung halaman saya, banyak calon petinju. Bakat alam itu sangat menjanjikan. Makanya saya sengaja bikin tinju dua hari di kampung sendiri. Saya yakin akan bermunculan calon petinju bagus.

Bikin tinju di daerah mahal. Ongkos pesawat saja bisa bikin tiga kali pertandingan eliminasi di Jakarta.

Di Jakarta, petinju yang main itu-itu juga. Bahkan orang yang sudah tua ditampil.

Jakarta tidak mungkin menggaet yang muda. Kita bikin di daerah yang nota bene rugi bangat. Nanti hasilnya akan kelihatan, sekaligus menghibur masyarakat yang sedang menghadapi pandemic COVID-19.

Intinya, uang bisa dicari tapi pertumbuhan dan kemajuan sulit. Kalau mau mendapatkan petinju bagus, carilah di daerah.

Pertanyaan terakhir, terserah mau dijawab serius, mengapa hanya mengurus tinju pro dan mengapa tidak ikut mengurus tinju amatir?

Saya sebenarnya mau amatir. Ini kita terbuka saja, amatir itu didukung oleh pemerintah. Ada uang di sana. Ada sumbangan. Kita mungkin pernah mendengar, Pertina atau suatu daerah mendapat sumbangan ring. Harga satu ring itu ratusan juta. Beda dengan tinju pro. Cari sendiri.

Sekarang tinju pro kita sedang ambruk, sejak Chris John tidak lagi juara dunia. Tidak ada kemajuan. Tinju pro kita mengalami kemunduran, karena yang tua-tua semua yang main. Petinju muda malah jadi penonton, jaga tanah, atau tukang tagih.

Saya dan teman-teman promotor lainnya, selalu berpikir bagaimana menggelar pertandingan.

Banyak teman saya yang menjadi promotor, yang sengaja memberikan kesempatan tanding kepada petinju amatir. Tinju Ampro, amatir dan profesional.

Tinju pro kita akan maju, kalau ada pertandingan. Itu pasti.

Saya senang melihat promotor lain menggelar pertandingan. Itu harus kita hormati. Saya berharap para donatur maju terus mendukung pertandingan. Saya yakin, jika setiap promotor mendapat support dari pengusaha dan pemerintah, pasti lahir juara dunia baru. Saya sangat yakin dengan kata-kata saya. Pasti datang juara dunia baru.

Saya sekarang bikin tinju pro supaya bisa mencapai prestasi dunia. Tetapi, saya juga ada hati untuk tinju amatir. Tahun depan, tahun 2022, ada proyek untuk amatir.

Finon Manullang

Menulis dari Desa Tridayasakti, Jawa Barat.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: