Press "Enter" to skip to content

Wawancara Hengky Silatang: Tidak Ada Orang yang Hebat

Rondeaktual.com

Hengky Silatang, 54 tahun, baru saja mencetak rekor dua kali berturut-turut terpilih aklamasi memimpin Pertina DKI empat tahun ke depan. Di dalam hidupnya, tidak ada orang yang hebat. Semua karena kerja tim. Tim yang kuat.

Hengky sekarang menjabat Ketua Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) DKI Jakarta 2021-2025. Hengky terpilih aklamasi melalui Musyawarah Provinsi (Muspro) di Senayan, Jumat, 19 November 2021.

Musprov terkesan paling istimewa dalam sejarah Pertina. Belum pernah Muspro berlangsung dihadiri Ketua Umum PP Pertina, Bendahara Umum, Sekjen, dan Wasekjen.

“Saya orangnya suka bergaul. Banyak teman itu bagus. Teman itulah yang mendukung saya,” katanya. Berikut petikan wawancara eksklusif Hengky Silatang, kelahiran Taliwang, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, 27 September 1967.

“Sudah dua kali terpilih aklamasi dan dua kali menjadi Ketua Pengprov Pertina DKI Jakarta. Apa enaknya menjadi Ketua Pengprov Pertina?

Dibilang enak, tidak juga. Ini diawali secara estafet dari yang lama Pak Sinaga. Waktu itu, saya Ketua Harian.

Ketika masa kepengurusan (2013-2017) habis, saya mencalonkan diri. Saya terpilih. Aklamasi. Itu menandakan regenerasi berjalan dengan baik. Saya kader.

Kemarin (Jumat, 19 November 2021) saya maju lagi. Sendiri lagi dan aklamasi.

Semudah itukah untuk menjadi seorang Ketua Pengprov Pertina?

Jangan melihat seseorang itu setelah dia berhasil. Lihat ke belakang. Ketika saya terpilih sebagai Ketua Pertina DKI, orang mungkin bilangnya begini: “Wah hebat.”

Orang tidak akan melihat bagaimana saya sebelumnya. Bagaimana susahnya mencari dana. Tahunya sudah jadi.

Saya sudah melewati semuanya mulai dari bawah. Saya dulu petinju (salah satunya juara Kembang Cup Bandung). Saya lama bersama Pertina Lampung, kemudian pindah ke Jakarta.

Setelah berhenti tinju, saya pelatih daerah dan pelatih nasional. Saya pelatih Tim PON DKI dan pelatih Pelatnas Piala Presiden. Saya juga pernah menjadi Direktur Pelatnas, sebuah jabatan yang tinggi.

Semua itu kepercayaan. Seperti kepercayaan dari Pengkot yang mengikuti Musprov kemarin. Pengkot mendukung saya dan terima kasih.

Pada era kepengurusan 2017-2021, Pengprov Pertina DKI sekali menggelar pertandingan kelas nasional. Ada Piala Kapolda Metro Jaya.

Saya mengenal banyak orang, polisi, tentara, pengusaha, politikus, dan tokoh olahraga. Saya mengenal Pak Idham Azis. Waktu itu beliau Kapolda Metro Jaya, yang kemudian menjadi Kapolri.

Kita bikin pertandingan Piala Kapolda Metro Jaya. Tempatnya di Balai Sarbini, tempat yang mewah dan mahal. Jarang orang berani bikin pertandingan tinju amatir di Balai Sarbini.

Petinju yang bertanding dari berbagai daerah, termasuk dari yang paling jauh Papua datang.

Waktu itu kita siapkan empat sepeda motor untuk petinju terbaik putra dan putri dan petinju favorit putra dan putri.

Ada COVID dan sudah masuk tahun kedua.

Sebelum COVID, kita sudah melakukan pembenahan organisasi. Pengkot kita hidupkan kembali.

COVID membuat tinju tenggelam. Tidak ada pertandingan. Tidak hanya di Indonesia. Olimpiade Tokyo harus digeser setahun menjadi 2021. PON juga begitu, digeser setahun. SEA Games, yang seharusnya tahun ini, digeser tahun depan.

COVID membuat kita berhenti. Tetapi, kegiatan latihan bersama tetap kita adakan dengan menjalankan protokol kesehatan yang ketat.

Sebelum COVID, kita mengikuti semua pertandingan resmi yang diadakan Pertina. Kita ikut Kejurnas Junior Youth. Ikut Kejurnas Elite. Ikut Pra PON di Ternate dan Pra PON di Bogor.

Tahun 2019, DKI mengirim tujuh petinju Kejurnas Junior Youth di Sumatera Utara. Pulang enam emas dan satu perunggu. Itu sejarah.

Petinju DKI meloloskan sembilan petinju boleh bertanding di PON Papua.

Pada awal pertandingan, kita sempat ketar-ketir. Petinju DKI dihantam kasus pemukulan. Itu sangat mengganggu konsentrasi. Kita sempat terseok-seok dan akhirnya berhasil merebut dua medali emas (melalui Novita Sinadia dan Matius Mandiangan).

Kita berhasil menjawab target yang diberikan KONI DKI. Dua medali emas, bukan perjalanan yang gampang.

Keberhasilan merebut dua medali emas, menjadi salah satu kepercayaan teman-teman yang mendukung saya untuk terus memimpin Pertina DKI.

Kalau dalam kepengurusan saya tanpa prestasi, barangkali teman-teman Pengkot juga berpikirnya akan lain. Kalau kita tidak menjaga komunikasi, mungkin juga saya ini tidak ada artinya di depan teman-teman pengurus. Saling menghormati. Itu harus.

Setelah aklamasi?

Dalam satu bulan ini saya akan menyusun kepengurusan. Mungkin tidak semua terakomodir tetapi akan tetap solid.

Kita akan mempertahankan prestasi yang sudah ada. Sekarang atlet tinju DKI sudah diperhitungkan. Kita sudah ditakuti. Sudah masuk level lima besar. Sebelumnya sempat dipandang sebelah mata.

Hebat juga ya.

Itu semua hasil kerja keras. Hati yang bagus, bukan hati busuk yang membuat gaduh di luar. Di sini tidak ada yang hebat sendiri. Semua karena saling mendukung.

Pengprov Pertina DKI (periode 2017-2021) mempunyai wakil ketua yang ikut membantu untuk kemajuan tinju dan itu ada pada diri Pak Richard Engkeng. Memberikan imput dan kita tahu atlet tinju DKI itu hasil binaan beliau (Richard Engkeng).

Dua yang merebut medali emas PON Papua (Novita Sinadia dan Matius Mandiangan), itu kan dari RE Boxing Minahasa Utara.

RE Boxing itu yang mendirikan adalah Pak Richard. Petinju RE Boxing itu bagus-bagus. Pernah mendominasi pelatnas. Semua petinju Pelatnas datang dari satu sasana, yaitu RE Boxing.

Kita selalu menjaga hubungan baik. Tidak ada orang yang hebat. Semua karena kerja tim.

Untung itu adalah kebahagiaan. Motto saya adalah rohnya persaudaraan. Kalau kita banyak kawan itu adalah kekayaan. Itulah yang bisa membantu kita.

Hengky Silatang, Nico Thomas (juara dunia IBF 1989), pelatih Hugo Goselling, Ellyas Pical (juara dunia IBF 1985). Berada di HS Boxing Camp, Sabtu, 29 Agustus 2020. (Foto: Istimewa)

HS Boxing Camp Ciseeng berdiri sudah masuk tiga tahun ini. Banyak Pengprov mengirim tim PON-nya untuk mendapatkan latihan bersama.

Terima kasih, HS Boxing Camp sudah pernah dikunjungi dua Ketua Umum PP Pertina (Irjen Pol Johni Asadoma dan Mayjen TNI Purn Komaruddin Simanjuntak). Pernah dikunjungi dua mantan juara dunia (Ellyas Pical dan Nico Thomas).

Saya senang, karena HS Boxing Camp bisa memiliki fasilitas lengkap. Ada dua ring standard internasional. Ada ruang fitness. Ada kamar untuk atlet tinju. Setiap kamar dilengkapi kamar mandi di dalam. Semua AC.

Mereka (atlet tinju DKI) datang tinggal tidur. Tidak bayar. Gratis dari saya. Kalau makan dari KONI DKI.

Petinju DKI paling besar penghasilannya, jika dibandingkan dengan atlet daerah lain.

Gaji atlet PON DKI, kalau tidak salah tujuh sampai delapan juta. Pelatih lebih besar lagi.

Uang petinju tidak pernah singgah di tangan saya. Semua langsung ke rekening masing-masing. Transfer selesai. Malah, kalau mereka kehabisan uang, mintanya ke saya. Saya kasih.

Ketua Pengprov Pertina DKI Jakarta dikenal selain paling banyak kawan dari kalangan pengusaha, juga dikenal paling banyak gagasan.

Tahun ini kita ada gagasan untuk bikin penataran pelatih dan wasit/hakim. Tempatnya di HS Boxing Camp.

Wasit/hakim itu sangat perlu. Kalau wasit/hakim kita bagus, maka akan lahir juga atlet tinju yang bagus.

Penataran pelatih juga sangat perlu. Banyak mantan petinju yang bisa diarahkan menjadi pelatih. Nanti kalau sudah mendapat sertifikat, dia bisa melamar ke gym atau club. Sekarang sedang menjamur tempat latihan tinju. Member-member itu butuh pelatih yang memiliki dasar tinju yang baik dan benar. Bukan asal bisa ngejeb.

Pelatih yang baik dan benar harus dihasilkan dari sebuah pendidikan. Nanti kita datangkan penatar atau pakar tinju seperti juara Asia kelas bantam 1985, Bung Ferry Moniaga. Kita bisa mendatangkan mantan juara dunia Ellyas Pical. Tunggu saja.

Finon Manullang
Menulis dari Desa Tridayasakti, Jawa Barat

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: