Press "Enter" to skip to content

Yance Rahayaan Menulis: Teringat Percakapan Tim FTPI dengan Andi Mallarangeng

Rondeaktual.com

Masih segar dalam ingatan saya tentang percakapan antara Tim Federasi Tinju Profesional Indonesia (FTPI) dengan Menpora RI Andi Mallarangeng, ketika itu, sekitar enam tahun yang silam.

Tim pendiri FTPI yang kebetulan saya pimpin, beraudensi dan melaporkan secara resmi kepada Menpora RI Bapak Andi Mallarangeng, bahwa FTPI lahir sebagai badan tinju pro yang kelima di Indonesia.

Satu pertanyaan dari Menpora Andi Mallarangeng khususnya kepada saya untuk dijawab. Mengapa sudah ada lima badan tinju profesional di Indonesia, tetapi tidak ada lagi juara dunia dari Indonesia dan bahkan tidak ada lagi event pertandingan tinju secara berkala di semua televisi. Tinju dihapus.

Pertanyaan Bapak Menpora kepada saya saat itu memang bagi saya susah untuk dijawab. Namun secara santai saya bercanda dan menjawab: “Mohon maaf, Pak Menteri memang situasi dan realita sudah seperti begini dan mungkin yang saya bisa jawab kepada Pak Menteri dengan menyumbangkan lagu Ebiet G. Ade, marilah kita semua bertanya kepada rumput yang sedang bergoyang, mungkin di sanalah ada suatu impian dan harapan.

Jawaban canda saya ini membuat Pak Menpora dan semua tim FTPI yang hadir dalam audensi tersebut tertawa termasuk Bung Sarifudin Lado, orang yang kita kenal sebagai penata pertandingan, yang ikut hadir dalam pertemuan saat itu dan tertawa.

Jawaban saya kepada Menpora memang canda tapi kalau mau dijelaskan lebih lanjut tentang lagu Ebiet G. Ade yang bertanya kepada rumput yang sedang bergoyang atau diterjemahkan artinya sangat luas.

Kenapa saya bisa katakan seperti itu? Saya masih ingat pesan guru tinju saya, yaitu mendiang promotor flamboyan Boy Bolang kepada saya bahwa menjadi promotor itu gampang. Siapa saja bisa. Tetapi menjadi promotor untuk menciptakan juara dunia itu susah. Saya yang juga seorang promotor dan sudah bertahun-tahun menekuni bisnis tinju pro Tanah Air, jujur saya berkata belum bisa menciptakan seorang juara dunia.

Dalam artian menjadi promotor harus memiliki platform melalui dedikasi, integritas yang tinggi, memiliki manejemen sistem pembinaan pertandingan secara marathon atau bertahap.

Mengorbitkan petinju yang berpotensi diorbitkan secara bertahap sesuai jenjang jangka pendek, menengah, dan panjang.

Sistem pembinaan seperti itulah yang harus kita jalankan. Mari kita belajar dan terapkan seperti yang sudah dilakukan oleh promotor Boy Bolong, yang terbukti sudah menghasikan juara dunia melalui kepalan kidal Ellyas Pical.

Ellyas Pical lahir melalui manajemen Boy Bolang Foundation. Itu harus diakui.

Sejarah mencatat, Ellyas Pical menjadi petinju Indonesia pertama yang berhasil merebut gelar juara dunia tinju profesional melalui kemenangan KO pada ronde kedelapan atas juara IBF kelas bantam yunior Judo Chun (Korea Selatan). Peristiwa penting itu terjadi di Istora Senayan, 3 Mei 1985.

Semasa hidupnya, Boy Bolang selalu mengingatkan saya, jangan menjadi promotor atau penyusun partai hanya untuk event tinju sekedar grebak-grebuk atau gebuk sana gebuk sini untuk memberi semangat atau kepuasan kepada orang yang menonton sesaat dan kemudian merusak prestasi petinju ke depan. Jadilah seorang promotor yang bisa memainkan peran penting untuk menciptakan petinju menjadi juara yang berkualitas.

Saya diingatkan, untuk menjadi juara itu gampang tetapi menciptakan juara yang berkualitas itu susah. Juara harus dilahirkan.

Sponsor dan televisi masih mau untuk bekerjasama memajukan prestasi tinju Indonesia, tetapi produknya petinju tidak berkualitas dan prestasi petinju seluruh Indonesia merata alias sama saja. Makanya yang saya sampaikan kepada Pak Andi Mallarangeng adalah tentang lagu Ebiet G. Ade.

Semoga apa yang telah dilakukan oleh promotor Boy Bolang, yang sudah melahirkan juara dunia, bisa dilaksanakan oleh kita semua pelaku olahraga tinju Indonesia.

Apalagi, kita sekarang memiliki lima badan tinju profesional. Ada Komisi Tinju Indonesia (KTI), kemudian disusul Asosiasi Tinju Indonesia (ATI), Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI), Federasi Tinju Indonesia (FTI), dan yang terakhir adalah Federasi Tinju Profesional Indonesia (FTPI).

FTPI sekarang dipimpin oleh Milasari Anggraini. Pekan depan, Jumat, 3 Desember 2021, FTPI akan menggelar Munaslub yang pertama untuk mensahkan revisi AD/ART.
Keberadaan lima badan tinju sering mengingatkan saya dengan Menpora Andi Mallarangeng. Percakapan di beberapa tahun yang lalu itu selalu saya ingat, ketika beliau bertanya mengapa sudah lima badan tinju tetapi belum lahir juara dunia baru.

Itu tantangan. Saya selaku pendiri FTPI, berharap bisa lahir juara dunia baru yang sangat kita tunggu-tunggu.

Dari siapa? Entahlah, kita lihat saja nanti.

Yance Rahayaan

Menulis dari Bogor, Jawa Barat.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *