Press "Enter" to skip to content

Alex Rabadeta Menulis: Spesialisasi Ellyas Pical Dkk

Rondeaktual.com

Setiap orang pasti berbeda. Ellyas Pical, yang membuat sejarah besar sebagai orang Indonesia pertama merebut gelar juara dunia tinju pada 1985, memiliki spesialisasi pada tangan kirinya.

Chris John tentu beda. Begitu pula dengan mantan juara dunia yang pernah kita miliki. Apa saja spesialisasi mereka? Saya mulai dari Ellyas Pical.

ELLYAS PICAL

Ellyas Pical merebut gelar juara dunia IBF kelas bantam yunior, setelah merobohkan juara asal Korea, Judo Chun.

Itu terjadi pada ronde 8, dari 15 ronde yang direncanakan, di Istora Senayan, Jakarta, Jumat malam, 3 Mei 1985.

Kekuatan pukulan tangan kiri Ellyas Pical memang luar biasa dahsyatnya dan ditunjang dengan kecerdasannya menghindari pukulan lawan lalu mengcounternya, saat posisi lawannya sedang mengambang, sehingga kedahsyatan pukulannya menjadi dua kali lebih kuat dari kapasitas kekuatan pukulan yang dimilikinya. Timing pukulannya sangat cepat dan tepat.

Itulah yang menjadi nilai jual seorang Ellyas Pical di atas ring tinju.

Lewat petinju Saparua inilah Indonesia untuk pertama kalinya mencatatkan diri dipercaturan tinju dunia yang bergengsi, yakni gelar juara dunia IBF.

Sejarah perjalanan karir Ellyas Pical tak akan terlupakan. Sampai sekarang.

NICO THOMAS

Nicolas Thomas –biasa ditulis Nico Thomas—adalah petinju Indonesia kedua yang berhasil menjadi juara dunia. Sama seperti terdahulunya Ellyas Pical, Nico Thomas juga southpaw. Keduanya sama-sama kidal tapi beda kelas. Elly kelas bantam yunior 52, 163 kilogram dan Nico kelas jerami atau kelas terbang mini 47,627 kilogram.

Perawakan Nico kecil dengan senyum manis yang selalu menghiasi wajahnya dan keramahan saat berada di luar ring. Bèrbading terbalik saat dia berada di atas ring. Tak memberi ampun setiap lawan yang dihadapinya. Langkah kakinya terlihat sangat enteng saat menghindar dari serangan pukulan lawan.

Bergaya southpaw sama seperti Ellyas Pical, Nico Thomas juga memiliki pukulan tangan kiri yang sangat mematikan, didukung figthing spirit yang luar bisa. Itu sangat mengagumkan.

Gelar juara IBF kelas terbang mini yang direbut Nico Thomas dari tangan juara Samuth Sithnaruepol (Thailand) bisa dikatakan hanya seumur jagung. Hanya tiga bulan kemudian hilang setelah tumbang KO ronde keempat di tangan southpaw Eric Chavez (Filipina), di Gedung Basket Lokasari, Mangga Besar, Jakarta Barat, 21 September 1989. Namun, setidaknya Nico Thomas telah membuat sejarah bahwa dia pernah menjadi juara dunia kedua setelah Ellyas Pical.

Spesialisasi Nico Thomas terletak pada kekuatan pukulannya yang sangat mematikan. Long hook kiri Nico paling berbahaya. Itu harus kita akui.

CHRIS JOHN

Kepandaian mengatur jarak permainan, sesuai dengan irama yang diingininya menjadikan Chris John selalu terlihat unggul di dalam jual-beli pukulan.

Chris John menjadi juara dunia WBA kelas bulu, yang diawali dengan kemenangan split 12 ronde atas Oscar Leon (Kolombia) di Kuta, Bali, 26 September 2003. Itu merupakan kejuaraan WBA Interim.

Kecepatan pukulannya juga sangat baik dengan pergerakan langkah kakinya yg enteng, menjelajahi seluruh luas ring, bagaikan kupu-kupu yang sedang menari indah, dibarengi dengan lontaran pukulannya yang dimuntahkan secara bertubi, seperti serangan lebah yang datang secara beruntun, menerpa wajah lawan.

Itulah yang menjadi keistimewaan seorang Chris John. Dengan gaya permainan yang safety seperti itu, tak heran jika Chris Jon adalah satu-satunya petinju Indonesia yang lebih dari sepuluh kali mampu mempertahankan gelar juara dunia WBA dan hanya mencatat sekali kekalahan lalu memutuskan untuk menggantungkan sarung tinju.

Chris John pensiun dari tinju menyusul kekalahan buruk TKO atas Simpiwe Vetyeka (Afrika Selatan). Chris John kehilangan gelar juara dunia WBA Super kelas bulu dan gagal merebut gelar juara dunia IBO kelas bulu yang disandang Vetyeka.

Setelah pengunduran dirinya, Chris John menekuni karir baru sebagai promotor. Ia juga sibuk untuk berbagai undangan dan acara tinju di televisi.

MOHAMAD RACHMAN

Petinju ini punya semangat dan optimisme yang sangat tinggi. Sepanjang karirnya, tak ada kata menyerah menghadapi situasi sesulit apa pun.

Petinju yang satu ini typical petinju yang tahan banting dan memiliki disiplin latihan yang jarang dimiliki oleh atlet tinju lain.

Sangat pantas bila Rachman menjadi juara dunia IBF kelas terbang mini dan dia melengkapi karirnya yang hebat menjadi satu-satunya petinju Indonesia yang kemudian merebut gelar juara dunia WBA kelas minimum.

Pada awal karirnya, langkah Rachman tidak terlalu mulus karena sebelum meraih juara dunia IBF, Rachman pernah kalah di tangan petinju Indonesia seperti; Faisal Akbar, Julio de la Bazes, dan Mekky Mbatu.

Walau pernah menderita beberapa kali kekalahan tetapi karena rasa optimisme yang tinggi, dia mampu bangkit dari lubang keterpurukan dan melejit menjadi juara dunia, setelah menaklukan sang juara bertahan IBF asal Kolumbia, Daniel Reyes, era mendiang promotor A Seng, yang dermawan itu.

Style seorang Rachman di atas ring tidak pernah monoton. Artinya Rachman mampu menyuguhkan beberapa style di atas ring, tergantung siapa lawan yang dihadapinya.

Ketika Rachman berhadapan dengan Daniel Reyes, Rachman bergaya figther yakni menekan lawan sepanjang ronde dan berhasil memenangkan pertarungan 12 ronde di Jakarta.

Saya mencatat juga ketika Rachman mempertahankan gelar juara IBF melawan Omar Soto dari Meksiko, Rachman bergaya counter boxer dan dengan gaya tersebut Rachman berhasil memukul jatuh lawannya dan berhasil memperpanjang gelar juara IBF yang disandangnya..

Setelah gagal mepertahankan gelar IBF ketika menghadapi petinju Filipina, Florente Condes, Rachman tidak segera mengambil keputusan untuk menggantungkan sarung tinju. Dia tetap disiplin berlatih, sampai pada 2009 Rachman mendapat kesempatan untuk merebut gelar kelas minimum WBC, di Thailand, berhadapan dengan sang juara bertahan Oleydong Sithsamerchai Kittipong Jaigrajang (Thailand), namun gagal. Rachman dinyatakan kalah angka setelah terjadi benturan kepala pada ronde ke 11.

Selepas dari kekalahan tersebut, Rachman tetap berlatih dan tak putus asa sampai tiba pada tahun 2011, Rachman kembali mendapatkan kesempatan menghadapi Kwanthai Sithmorseng (Thailand), yang berlangsung di Bangkok, 19 April 2011. Tanpa diduga Rachman berhasil merebut sabuk juara WBA kelas minimum dari tangan sang juara bertahan, setelah berhasil merobohkannya pada ronde 10.

Perlu dicatat dan digaris bawahi; Rachman merupakan satu satunya petinju Indonesia yang berhasil merebut dua gelar juara dunia yakni IBF dan WBA.

Catatan lain, ketika merebut juara dunia WBA di Bangkok, usia Rachman sudah hampir 40 tahun. Ini merupaksn rekor langka yang ditorehkan oleh seorang petinju dunia.

Seperti apa yang saya kemukakan pada awal catatan tentang Rachman, adalah optimismenya yang tinggi yang membawa dia meraih reputasi yang luar biasa, di samping dia memang bertalenta dan punya semangat latihan yang tak pernah kendor.

Demikian tulisan saya tentang beberapa spesialisasi empat mantan juara dunia kita. Kiranya bisa menjadi inspirasi. Salam olahraga.

Alex Rabadeta
Mantan petinju kelas bantam dan mantan pelatih, menulis dari Kota Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *