Press "Enter" to skip to content

Syamsul Anwar Menulis: Waktunya Pertina Road to Paris

Rondeaktual.com

Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) lahir untuk olimpiade.

Itulah tujuan utama berdirinya Pertina pada tahun 1959. Sebelum ada Pertina, olahraga tinju amatir dan pro tergabung dalam Persatuan Tinju dan Gulat (Pertigu).

Agar bisa ikut Olimpiade Roma 1960, tinju amatir harus punya organisasi sendiri. Maka didirikanlah Pertina pada tanggal 30 Oktober 1959.

Partisipasi sejak Olimpiade Roma 1960 dengan hasil maksimal perempat final. Sejak empat olimpiade terakhir terputus tidak satu pun petinju yang lolos kualifikasi. Tidak ikut karena tidak lolos kwalifikasi bukanlah suatu kejadian biasa, tetapi luar biasa.

Luar biasa, Indonesia dengan 260 juta penduduknya tak satu pun petinjunya boleh ikut bertanding di ring tinju olimpiade.

Petinju Indonesia absen di empat olimpiade terakhir, yang dimulai dari Olimpiade XXIX/2008 Beijing, Olimpiade XXX/London 2012, Olimpiade Rio XXXI/2016, dan Olimpiade Tokyo XXXII/2020.

Olimpiade mendatang akan berlangsung di Paris tahun 2024. Semua negara sudah bersiap mengikutsertakan atlit terbaiknya, atau petinju terbaiknya untuk cabang olahraga tinju. Mereka berhitung, bagaimana mempersiapkan petinju dengan target lolos dan mendapat medali di Olimpiade Paris.

Tahun 2024 sudah dekat dan tahun 2023 sudah mulai dengan kwalifikasi.

Kini saatnya Pertina membuat program Road to Paris, dengan rencana mempersiapkan materi petinju yang akan bertanding di kwalifikasi ring tinju olimpiade. Kwalifikasi biasanya dibuat dua kali. Pertama dalam Kejuaraan Tinju Amatir Asia tahun 2023 yang memilih petinju finalis yang lolos menjadi peserta Olimpiade Paris 2024. Ditambah satu lagi peserta setiap kelas yang menjadi juara pada satu turnamen terbuka. Jadi tiga petinju yang mewakili setiap benua pada setiap kelas.

Benua Asia, saat ini dihuni oleh beberapa negara terbaik dunia dalam cabang olahraga tinju amatir. Seperti Kazakhstan, Uzbekistan, serta beberapa negara Asia timur. Persaingan di Asia kini terasa amat berat untuk bisa ikut ke ring tinju olimpiade karena kemajuan yang dicapai oleh negara Asia Utara dan Asia Selatan, terutama India dan Pakistan. Sedangkan Asia Timur masih petinju Korea Selatan, Jepang, serta China, yang berperan. Asia Tenggara masih dikuasai oleh Thailand dan Filipina.

Olimpiade Tokyo didominasi petinju Kuba dengan merebut empat medali emas dan satu medali perunggu.

Filipina yang datang dengan empat petinju, berhasil merebut dua medali perak dan satu medali perunggu melalui Nesthy Petecio (perak kelas bulu putri), Carlo Paalam (perak kelas terbang putra), dan Eumir Marcial (perunggu kelas menengah putra).

Thailand datang dengan lima petinju dan merebut medali perunggu kelas ringan putri melalui Sudaporn Seesondee.

India datang dengan sembilan petinju putra dan putri dan merebut satu medali perunggu kelas welter putri melalui Lovlina Borgohain.

Pertina sendiri harus segera membuat program yang matang dan terencana untuk bisa meloloskan petinjunya ke olimpiade.

Baru baru ini Pertina menyelenggarakan Musyawarah Nasional Luar Biasa atau Munaslub untuk membicarakan masalah kepengurusan saja. Maka sebaiknya Pertina juga mengadakan Rapat Kerja Luar Biasa untuk mengejar lolos kwalifikasi prestasi ikut olimpiade yang kita banggakan.

Syamsul Anwar Harahap
Juara Asia kelas welter ringan 1977, menulis dari Sei Mencirim, Medan Krio, Deli Serdang, Sumatera Utara.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *