Press "Enter" to skip to content
Bonyx Saweho dan keluarga. (Foto: Istimewa)

Wawancara Olympian Bonyx Saweho: Ke Olimpiade Bersama Sang Idola Wiem Gommies

Rondeaktual.com – Oleh Finon Manullang

Tadi malam, Rabu, 2 Maret 2022, menjelang Bonyx Saweho, 39 tahun, tidur, ia masih sempat menjawab pertanyataan paling up date. Bonyx menjelaskan, sedang mempersiapkan Musyawarah Provinsi (Musprov) Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina)) Sulawesi Utara. Musprov akan memilih ketua baru untuk masa bakti 2022-2026.

Bonyx juga menjelaskan, sekarang tidak lagi menjabat Camat Luminting. “Saya sudah mutasi dan menjabat Camat Wenang,” katanya.

Bonyx Saweho lahir di Manado, Sulawesi Utara, 11 November 1982. Pria berusia 39 tahun ini mengikuti Olimpiade XXVIII/2004 Athena, Yunani, bersama pelatih sekaligus idolanya, Wiem Gommies.

Bonyx bertanding di kelas terbang ringan 48 kilogram. “Saya langsung kalah di pertandingan pertama. Tetapi, saya telah mempunyai pengalaman pernah ikut olimpiade. Itu mahal harganya,” katanya. Berikut wawancara Olympian Bonyx Saweho, tahun lalu.

Hengky Silatang dan Bonyx Saweho di sasana tinju Dirgantara Mabes TNI AU, Cilangkap, Jakarta, 28 Maret 2020. (Foto: Istimewa)

1. Siapa orang pertama yang menyuruh Anda berlatih tinju?

Waktu itu kita tumbuh di lingkungan keluarga tinju. Saya terpengaruh dengan kakak dan adik dari mama, yang memang petinju.

Saya tinggal di lokasi petinju semua. Adik mama, Sakawang Mocodompis, beliau mengajarkan saya bagaimana cara bertinju yang baik dan benar. Bukan asal berani asal pukul.

Setelah itu ikut latihan sama paman dengan senior tinju lainnya. Umur lima dan mau masuk enam tahun. Masil kecil.

Di sanalah, di Sasana Pertisar, saya belajar tinju. Pertisar itu singkatan dari Persatuan Tinju Sario. Saya tinggal di Sario.

2. Siapa saja pelatih yang pernah membimbing sebagai petinju, barangkali masih ingat.

Saya kira semua orang so tahu itu dan so pasti Om Eddy Areros.

Itu di tingkat daerah. Om Eddy berjasa dalam mendidik saya sebagai petinju. Kemudian ada Carlos Tores dari Kuba, di era Pelatnas Jakarta. Ada Om Ronny Sigarlaki (Jawa Barat), Om Ferry Moniaga (DKI Jakarta), Om Mesakh Yawan (Papua), Pak Ucok Tanamal (Sumatera Utara).

Beliau-beliau itulah yang mendampingi saya selama di Pelatnas Jakarta sampai ke pertandingan.

Sementara, orang yang mendampingi saya ke Olimpiade Athena dan yang mendampingi saya ke Asian Games, dan SEA Games, adalah idola saya sendiri, Pak Wiem Gommies dan pernah juga didampingi almarhum John Amanupunjo dari Makassar.

3. Siapa lawan pertama, bertanding di mana, dan siapa pemenangnya.

Lawan pertama so lupa depe nama. So lama skali. Dalam kejuaraan nasional tingkat pra yunior di Manado pada tahun 1997, saya juara. Final ketemu lawan dari DKI Jakarta, Ricky Notty.

Saya senang dan bangga disaksikan penggemar tinju Sulut. Kita main di GOR KONI, Sario. Saya terpilih sebagai petinju berbakat. Umur 14 tahun waktu itu.

4. Ketika kalah dan ketika menang, bagaimana rasanya.

Kalau kalah rasanya malu dan kecewa. Kalau kalah pasti malu kepada semua masyarakat daerah, kalau itu tingkat kejurnas. Kalau kalah di pertandingan internasional, malu kepada masyarakat Indonesia. Saya sempat kalah dan malu kemudian mau berhenti tinju. Itu terjadi saat Asian Games Pusan pada tahun 2002.

Menjadi petinju tidak seenak yang dipandang orang. Ketika kita menang mungkin semangat hidup besar. Ketika kalah, ada rasa malu dan itu sangat saya rasakan.

5. Siapa petinju Indonesia yang pernah menjadi lawan terberat?

Itu terjadi pada perdelapan final PON XVIII/2012 Riau. Saya kalah melawan petinju dari Nusa Tenggara Timur (Denny Hitarihun). Rasanya sedih meninggalkan PON Riau.

PON sebelumnya (PON XVII/2008 Kalimantan Timur), saya medali emas kelas terbang. Final mengalahkan Julio Bria dari Bali.

6. Ketika menjadi seorang juara, bonus apa saja yang pernah diterima?

Bahagia rasanya menjadi juara pertama SEA Games 2001 Kuala Lumpur, Malaysia. Indonesia meraih dua medali emas melalui saya dan Alberth Papilaya. Saya menerima bonus dari KONI Provinsi Sulawesi Utara Rp 30 juta. Dari Pertina pusat Rp 30 juta, era Ketua Umum Bapak Mayjen (Sang Nyoman) Suwisma.

7. Bagaimana bisa menjadi wakil Indonesia di olimpiade?

Saya masuk dan lolos karena campur tangan Tuhan. Kebetulan itu salah satu cita-cita sejak kecil.

Cita-cita saya ingin tampil di olimpiade. Itu sudah tumbuh di kepala ketika juara nasional. Saya ingin main di olimpiade. Itu sebuah tekad dan harus diimbangi kemauan. Jangan cuma bisa bilang di mulut mau ikut olimpiade tapi kalau mau latihan saja harus menunggu pelatih datang kasih bangun.

Oleh karena kebesaran Tuhan, Tuhan mengabulkan cita-cita saya maju ke Olimpiade Athena tahun 2004.

Di Olimpiade Athena saya satu-satu petinju Indonesia, didampingi coach Wiem Gommies.

Saya pula yang terakhir tampil di olimpiade, sampai sekarang. Mudah-mudahan ada petinju kita yang bisa tampil lagi di olimpiade. Saya sangat berharap itu terjadi. Bahkan berharap ada petinju Indonesia yang mencatat sejarah. Sampai sekarang belum ada petinju Indonesia yang berhasil merebut medali dari olimpiade, meski medali perunggu. Ini tantangan bagi petinju kita sekarang. Oyo, rebutlah medali dari arena olimpiade.

8. Ketika tiba di olimpiade, bagaimana rasanya?

Bangga ya. Itu pastilah. Betapa hebatnya olimpiade. Serba mewah dan memang benar-benar luar biasa. Makanya orang bilang olimpiade itu adalah pesta olahraga dunia terbesar. Tidak ada lagi yang lebih besar selain olimpiade.

9. Ketika gagal meraih medali di olimpiade, bagaimana rasanya?

Sedih. Tapi itulah olimpiade. Ini memang tempat orang-orang terbaik. Petinju kelas satu dunia hanya ada di olimpiade. Saya bertanding di hari pertama dan kalah KO. Ya sudah, selesai. Itu harus saya terima.

10. Setelah tiba di Indonesia dari olimpiade, apa yang ada dalam pikiran Anda?

Saya ingin mendedikasikan pengalaman di tinju. Saya ingin menjadi pelatih. Saya rasa saya bisa melahirkan petinju yang bagus. Sulut salah satu gudang petinju. Sekarang tinggal mengatur waktu.

11. Untuk bisa menjadi petinju olimpiade, apa saja yang harus dilakukan?

Dia harus tetap berada dalam kondisi terbaiknya. Jangan sudah juara begadang terus masuk angin. Harus bisa jaga kondisi termasuk berat badan. Jangan sampai overweight berkilo-kilo. Pas ada panggilan bergabung dengan Pelatnas harus benar-benar siap. Nanti kelihatan lewat berat badan, dia siap atau tidak.

12. Mungkinkah petinju Indonesia bisa meraih medali di olimpiade mendatang?

Sangat mungkin. Kita penduduknya banyak. Materi banyak. Negara lain bisa, masak kita nggak bisa. Kita bangsa yang besar. Sekarang tinggal bagaimana memulainya. Mau lewat pelatnas dalam negeri atau pelatnas di luar negeri.

13. Ketika memilih pensiun dari tinju, apa yang pikirkan?

Saya pikir sudah tidak masanya lagi, jadi harus mundur. Biarlah yang muda yang maju. Mereka punya kesempatan untuk berkembang. Tinggal kepada atletnya, mau tidak untuk mencetak prestasi besar. Kalau mau, saya kira bisa.

Kalau saya, saya memilih fokus karir di pemerintahan. Saya sudah memulainya dari bawah, sebagai lurah (di Sario Utara dan di Sario Tumpaan). Sekarang camat.

14. Setelah pensiun dari tinju, apa saja yang dilakukan?

Melatih. Saya juga ikut di organisasi tinju. Saya masuk personalia Pengprov Pertina Sulawesi Utara dan Pengurus Pusat Pertina (di era sebelumnya). Setelah tidak bertinju saya bisa lebih fokus untuk keluarga.

15. Pertanyaan terakhir. Mengapa tidak memilih tinju pro?

Itu tidak pernah terpikirkan kalau saya jadi petinju pro. Tidak ada cita-cita jadi petinju pro. Dari kecil kita ini tahunya tinju amatir. Kita tahunya olimpiade dan itu yang memacu semangat untuk lebih rajin berlatih.

Lagipula ketika di ujung karir amatir saya sudah fokus kerja. Tidak sempat lagi mikirin yang lain. *

Finon Manullang
Menulis dari Desa Tridaya, Jawa Barat.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *