Press "Enter" to skip to content
Petinju kelas welter yunior Daud Yordan. (Rondeaktual.com)

Wawancara Daud Yordan: Melangkah Menuju Senator

Rondeaktual.com – Finon Manullang

Daud Yordan –kelahiran Simpang Dua, Ketapang, Kalimantan Barat, 10 Juni 1987—sekarang berusia 34 tahun. Belum ada kata berhenti. Sebagai petinju profesional di bawah manajemen MPro International, Daud ingin bertinju sampai tahun 2030. Di tahun itu, Daud umur 43 tahun.

“Karir tinju saya masih lama. Itu bisa saya pastikan sampai tahun 2030. Masih ada sisa waktu delapan tahun lagi. Sekarang ingin memulai karir di bidang politik. Melangkah menuju Senator,” kata Daud Yordan di Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Daud Yordan terakhir naik ring di World Siam Stadium, Bangkapi, Bangkok, Jumat, 19 November 2021, menang TKO ronde ke-5 atas Rachata Khaophimai (Thailand). Daud pulang dengan membawa sabuk juara WBC Asian Boxing Council Silver kelas welter yunior. Sebelumnya di Batu, Jawa Timur, Minggu, 17 November 2019, Daud merebut gelar lowong IBA world kelas welter yunior, setelah menang TKO ronde 8 atas Michael Mokoena (Afrika Selatan).

Daud Yordan bersama mantan Ketua Umum PP Pertina Nono Sampono (topi merah), Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari (kedua dari kanan), dan Ketua Umum KTPI Ruhut Sitompul (kanan), di Kota Batu, Jawa Timur, Minggu, 17 November 2019. (Foto: Mahkota Promotion)

Apa kabar Anda, Daud Yordan.

Saya sekarang berada di rumah, di Kayong Utara, baik-baik saja. Sehat semangat. Kemarin itu (Jumat, 4 Maret 2022) saya seharusnya bertanding di Thailand (melawan Pungluang Sor Singyu Panya Uthok, untuk gelar juara WBC Asian Boxing Council Silver super light weight). Tapi, barangkali sudah tahu, kalau saya terpapar COVID-19 tanpa gejala. Ketahuan pas tiba di Thailand, saat menjalani karantina di Bangkok. Mau tidak mau postpone. Manajemen Mpro International sudah mengurusnya untuk tunda ke pertengahan tahun ini. Masih di tempat yang sama, Thailand.

Kontrak hangus?

Tidak. Saya kira tetap lanjut. Bisa dengan lawan yang sama atau lawan baru. Ini tinju pro, semua bisa berubah.

Kompensasi?

Tidak ada. Buat saya (pembatalan pertandingan) itu sesuatu yang pahit. Itu force majeure (kejadian di luar kemampuan manusia yang tidak dapat dihindarkan).

Batal bertanding, saya kembali ke rumah, Kayong Utara, setelah mengikuti karantina ketika tiba di Indonesia. Saya tiga hari di hotel, di Jakarta.

Lepas karantina, saya masih seminggu di rumah Bapak (Raja Sapta) Oktohari, bersama teman-teman dari KONI Kabupaten Kayong Utara. Kami punya usulan pembangun gedung olahraga di Kayong Utara, melalui Kementerian Olahraga, Komisi X yang membidangi olahraga, Komisi VII BUMN, Komisi V Insprastruktur.

Kami diskusi dan minta arahan Pak Okto sebagai Ketua Komite Olimpiade Indonesia dan mitra Kemenpora. Beliau juga bukan sekedar pejabat publik, bagi kami di Kayong Utara, adalah abang dan orangtua kami, yang perlu kami minta pendapat.

Setelah seminggu di rumah Pak Okto, saya kembali ke Kayong Utara. Saya (sebagai Ketua KONI Kabupaten KONI Kayong Utara) melakukan roadshow ke kabupatan yang ada di Kalimantan Barat.

Sekarang, secara fisik baik dan tidak ada masalah. Aktivitas normal. Pagi masuk kantor (KONI Kabupaten Kayong Utara). Latihan malam tetap jalan (mulai pukul 18.00 hingga 20.00 WIB).

Selesai latihan, saya isi dengan bicara olahraga bersama teman pengurus KONI. Saya juga melakukan konsolidasi mengenai politik saya ke tim saya. Pukul 23.00 saya pergi tidur.

Siap terjun politik?

Sangat siap. Selama ini saya banyak belajar tentang politik. Bertemu dengan orang-orang politik. Saya melihat DPD (Dewan Perwakilan Daerah, yang sebelumnya disebut Utusan Daerah) untuk Kalimantan Barat. Siap melangkah.

Saya ingin menjadi Senator, melalui jalur independen. Banyak yang akan dikerjakan. Tapi poin penting adalah tugas dan kewajiban Senator sebagai perwakilan daerah ke pusat. Senator itu tidak membawa partai. Berjuang sendiri.

Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Barat sudah dekat. Bagaimana kekuatan Kayong Utara?

Porprov tahun ini dijadwalkan di Pontianak, 19 hingga 25 November. Kayong Utara akan mengirim atlek terbaiknya.

Saya harus bisa adil, sebab saya terpilih aklamasi. Saya dipilih 37 perwakilan, yang sepakat memilih saya sebagai ketua KONI Kabupaten Kayong Utara. Mereka punya pertimbangan. Kami kabupaten baru, dengan ketertinggalannya masih sangat minim di bidang olahraga. Butuh inovasi baru, yang menurut mereka ada di saya.

Porprov terakhir, kami merebut 18 medali emas, berada di peringkat 7 dari 14 kabupaten dan kota.

Karena tahun ini masih COVID, maka Pra Porprov ditiadakan. Himbauan dari Bapak Gubernur akan kita laksanakan sesuai aturan pemerintah. Atlet yang akan bertanding adalah atlet yang punya peluang besar menyumbang medali.

Setelah Ketua KONI Kabupaten Kayong Utara, Anda dipanggil Pak Daud atau Pakatua?

(Tertawa agak lama), Pakatua. Bagi saya ini sejarah. Saya atlet yang masih aktif dan di usia jalan 35 menjadi Ketua KONI. Ini kepercayaan dari teman-teman sekaligus tantangan baru berorganisasi, apalagi saya sebentar lagi akan terjun berpolitik.

Sebagai Ketua KONI, Anda mendapat fasilitas, barangkali.

Tidak. Kayong Utara masih terbatas. Belum ada fasilitas. APBD terkecil di Indonesia. Tapi saya kesampingkan soal fasilitas. Kita punya akal dan semangat. Sekarang bagaimana mengangkat prestasi olahraga di kabupaten saya menjadi lebih baik.

Ke kantor, saya hanya butuh satu menit dengan berjalan kaki dari rumah. Kalau pergi, saya masih bisa menggunakan mobil yang ada.

Padat sekali rutinitas Anda. Pagi latihan. Kemudian masuk kantor. Malam latihan lagi dan ditutup dengan berbagai diskusi olahraga dan politik, seperti yang Anda utarakan tadi.

Saya enjoy. Nikmati saja. Malah saya didaulat memegang ormas untuk Provinsi Kalbar.

Ormas apa?

Bapera atau Barisan Pemuda Nusantara. Ini baru tiga tahun. Sudah didaulat untuk mempersiapankan kepengurusan Bapera Kalbar.

Begitu banyak waktu yang tersita untuk mengurus olahraga dan politik. Masihkah punya hati seratus persen untuk tetap setia sebagai petinju profesional?

Saya pastikan berhenti tahun 2030. Karir tinju saya masih lama. Itu bisa saya pastikan sampai tahun 2030. Masih ada sisa waktu delapan tahun lagi. Saya merasa masih bisa, karena saya berbeda dengan atlet yang lain. Saya punya semangat. Sepanjang karir tinju saya, saya disiplin. Kalau nanti menjadi Senator, tinju tetap. Semangat tidak boleh kendor. Sebab ini jalan saya. Saya besar dari tinju.

Baguslah, tinju dan politik tetap jalan, seperti Manny Pacquaio di Filipina. Lantas, bagaimana dengan bisnis fitness atau usaha Daud Boxing Club?

Daud Boxing Club saya serahkan ke manajeman. DBC punya akte notaris. Saya tidak urus uang masuk. Saya tidak ambil sepeser pun yang dihasilkan oleh DBC.

Di tempat saya, banyak anak-anak dari berbagai daerah datang untuk menjadi petinju. Ada belasan orang yang tinggal dan belum yang di luar. Kalau dia tinggal di dalam, saya kasih uang. Saya gaji mereka melalui DBC. Tidak usah saya sebut berapa gaji mereka. Semua uang yang dihasilkan DBC, semua buat mereka. Tidak ada yang saya ambil. Saya lihat dari laporan keuangan cukup. Tidak perlu saya tambah. Kebetulan, saya memiliki anak-anak yang luar biasa. Terbaik menurut saya.

Saya pikir wawancara kita sudah cukup. Saya merasa suka, karena sedikit bertanya jawabnya panjang. Barangkali, Anda mau menambahkan sesuatu?

Terima kasih. Saya sampaikan kepada seluruh insan tinju, salam hormat dari saya dan mohon dukungan dalam setiap aktifitas.

Semoga situasi sekarang (COVID-19) cepat berlalu sehingga tinju bisa berjalan kembali.

Dengan segala ketulusan dan kerendahan hati, saya ucapkan selamat menyambut bulan suci Ramadan.

Kepada seluruh masyarakat Indonesia, semoga puasa diberikan hikmat, kearifan dan kesehatan serta kelancaran dalam kehidupan kita sehari-hari.

Finon Manullang
Menulis dari Desa Tridaya, Jawa Barat

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *