Press "Enter" to skip to content
Kusdiyono, pelatih pelatnas SEA Games XXXI Hanoi. (Foto: Finon Manullang)

Kisah Tim Pelatnas SEA Games: Kusdiyono Potong Entok

Rondeaktual.com – Coretan Finon Manullang

Dua minggu menjelang keberangkatan menuju SEA Games XXXI Hanoi, Vietnam, saya mengunjungi tim pelatnas cabor tinju nun jauh di sana, Desa Parigi Mekar, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Tim Pelatnas SEA Games XXXI Hanoi cabor tinju diikuti oleh tujuh atlet, empat pelatih, dan seorang manajer.

Dari kunjungan Sabtu, 30 April 2022, saya mendapat sejumlah kisah menarik dan salah satunya tentang pelatih Sertu TNI-AD Kusdiyono, yang dalam ingatan saya paling sering merebut mdali emas dari pertandingan Sarung Tinju Emas (STE).

Menurut pengakuannya sendiri, Kusdiyono adalah keluarga tinju. Dua abang Kusdiyono (Joko Suryono bekerja di Jasa Marga dan Hariyanto anggota Marinir) adalah petinju. Joko paling tinggi prestasinya, sampai medali emas PON.

“Saya ini benar-benar dari tinju. Tidak tahu jadi apa kalau tidak ikut tinju. Saya memang tentara, tapi semuanya dari tinju. Masuk Angkatan Darat karena tinju. Punya tanah dari uang tinju. Hadiahnya gede. Itulah hebatnya Jawa Barat, sangat memperhatikan atletnya.”

Setelah makan malam di ruang tamu terbuka tim pelatnas, Kusdiyono bersedia mengantar saya sampai ke Stasiun Kereta Api Bojong Gede, Bogor.

“Tapi mau ambil entok dulu. Nggak apa-apa kan?” katanya. ”Saya potong entok,” Kusdiyono tertawa. “Persiapan untuk Lebaran. Saya sudah tahu tempatnya (pusat penjualan entok). Nanti kalau ada yang mau bikin pesta dan butuh entok, belinya di sana.”

“Berapa harga?”

“Sekarang lagi mahal, dua ratus. Biasanya cuma seratus lima puluh. Biasalah pedagang memang begitu, sengaja dimahalin menjelang Lebaran.”

Akhirnya kami tiba di tempat pengambilan entok, masih di sekitar Ciseeng, dan sudah malam. Ibu-ibu datang membawa sepeda motor dan harus antre beli ayam. Di sana, setelah saya lihat sampai ke belakang, tidak ada entok. Hanya ada ayam potong.

“Mana entoknya, Mas Kus?” saya bertanya.

“Belinya di sebelah. Tadi saya titip potong.”

Di perjalanan menuju stasiun kereta api, Kusdiyono bercerita tentang seekor entok yang dibelinya seharga Rp 200.000.

“Nanti mau dimasak rica-rica. Campur bumbu Medan, belinya di pasar. Saya sudah punya langganan. Bumbunya paling mantap dah.”

Menurut pengakuannya sendiri, Kusdiyono adalah keluarga tinju. Dua abang Kusdiyono (Joko Suryono bekerja di Jasa Marga dan Hariyanto anggota Marinir) adalah petinju. Joko paling tinggi prestasinya, sampai medali emas PON.

“Saya ini benar-benar dari tinju. Tidak tahu jadi apa kalau tidak ikut tinju. Saya memang tentara, tapi semuanya dari tinju. Masuk Angkatan Darat karena tinju. Punya tanah dari uang tinju. Hadiahnya gede. Itulah hebatnya Jawa Barat, sangat memperhatikan atletnya.”

Entok adalah sejenis unggas dari keluarga bebek. Entok lebih besar dan lebih padat dagingnya dari bebek. Entok bisa mengeram dan bebek tidak. Orang lebih sedikit menjual entok karena lebih suka memproduksi bebek secara besar-besar. Di mana-mana, mulai pinggir jalan sampai restoran kelas satu, orang-orang berlomba-lomba menjual bebek goreng.

Ketika tulisan ini saya susun Rabu sore, 4 Mei 2022, saya tidak sempat bertanya bagaimana kisah selanjutnya tentang entok rica-rica versi Kusdiyono.

Tetapi, saya dapat membayangkan Kusdiyono bersama keluarga menikmati entok rica-rica. Pasti kenyang dan puas.

Tentang entok, saya pernah beli sepasang entok hampir dewasa di Pasar Jatinegera, Jakarta Timur. Sepasang Rp 175.000. Itu tahun 2017.

Saya kerjakan sendiri kandang entok dari bahan bambu dan kayu. Tak sampai lima bulan, entok sudah bertelur dan menjadi banyak karena menetas tujuh telur yang dierami selama 25 hari. Entok lebih lama empat hari mengeram dari ayam 21 hari.

Entok dipelihara oleh Timoriana Simanjuntak, ibu saya, untuk mengisi waktu di usia tua, sampai kepergian beliau untuk selama-lamanya dalam usia 81 tahun. *

TENTANG KUSDIYONO

Nama: Sertu TNI-AD Kusdiyono.
Lahir: Kebumen, Jawa Tengah, 6 Januari 1984.
Usia: 38 tahun.
Pekerjaan: TNI AD, Kesatuan Kodim 0621/Kabupaten Bogor.
Nama istri: Tuti Nurhandayani.
Nama anak: Darva Hidayatullah 12 tahun dan M. Bintang Kusuma 8 tahun.
Domisili: Cibinong, Kabupaten Bogor. *

Kusdiyono, raja kelas welter Nasional.

PRESTASI KUSDIYONO

1. 2009
Medali emas PORAD, berlangsung di Kodam IV/Diponegoro. Final menang atas Joshua Sapuletee (Kodam Pattimura Ambon).

2. 2009
Medali emas STE Tomohon. Final mengalahkan Toufan Paransa (Papua).

3. 2011
Medali emas PORAD, berlangsung di Kodam V/Brawijaya. Final mengalahkan Jubay (Kodam Diponegoro)

4. 2011
Medali emas Kejurnas Biak. Final mengalahkan Indra Faisal (Kalimantan Selatan).

5. 2012
Medali perak PON XVIII, Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Riau. Final kalah melawan Lodwijk Batlayeri (Maluku).

6. 2012
Medali perak STE Makassar. Final kalah melawan Indra Faisal (Kalimantan Timur).

7. 2013
Medali perunggu SEA Games XXVII Myanmar. Semifinal kalah atas petinju Thailand, Apichet Saenset.

8. 2013
Medali emas Piala Wapres RI II Padang. Final mengalahkan Taufiq Ismail (Iskandar Muda, Aceh Besar)

9. 2014
Medali emas Piala Wapres RI III GOR Teluk Tunjuk, Lahat. Final mengalahkan Charles Katiandago (Sulawesi Selatan).

10. 2014
Medali emas STE Medan. Final mengalahkan Daniel Pasaribu (Sumatera Utara).

11. 2015
Medali emas STE XXXIII Gedung Kesenian dan Olahraga, Tegar Beriman, Cibinong, Bogor. Final mengalahkan Charles Kadiandagho (Sulawesi Selatan).

12. 2016
Medali perunggu PON XIX di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Semifinal kalah atas Saputra Samada (Nusa Tenggara Barat).

Medali yang direbut Kusdiyono, semua melalui pertandingan kelas welter. (finon manullang)

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *