Press "Enter" to skip to content
Mantan juara dunia Mohamad Rachman, Sabtu, 28 Januari 2023. (Foto: Finon Manullang)

Wawancara M Rachman: Saya Bertanding Tidak Dibayar

Rondeaktual.com

Muhamad Rachman satu-satunya petinju Indonesia yang pernah menjadi juara dunia di dua badan tinju; IBF kelas terbang mini dan WBA kelas minimum.

Dalam tinju pro, kelas terbang mini dan kelas minimum berbobot sama 47.627 kilogram atau 105 pon.

Rachman sekarang berusmur 51 tahun, kelahiran Merauke, Papua, 23 Desember 1971. Dengan tubuh tampak kering, ia masuk ke dalam ring Piala Kapolda Metro Jaya, yang berlangsung di tengah jalan di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu, 28 Januari 2023.

Rachman, petinju yang dijuluki The Rock Breaker dan Predator, bertanding melawan Hendrik Barongsay.

Bisa dipastikan di luar aturan tinju pro. Sebab keduanya bertanding tiga ronde dengan durasi dua menit serta menggunakan pelindung kepala. Tinju pro seharusnya empat ronde atau enam ronde dan seterusnya dengan durasi tiga menit tanpa pelindung kepala.

Itu bukan pertandingan, melainkan uji coba atau iseng-iseng alias tinju main-main. Terbukti tidak ada pukulan yang mendarat telak di kepala maupun tubuh. Berikut wawancara M Rachman.

Bagaimana ceritanya, tahu-tahu Anda sudah berada di arena tinju di Kemayoran.

Saya memang di sini (Jakarta), yang kebetulan ada kegiatan kerja bersama teman-teman.

Anda bukan di Blitar?

Saya di mana saja. Kadangkala di Jawa Timur. Kadangkala di Papua. Bulan terakhir ini di Tangerang dan di Jakarta.

Apa yang Mas Rachman urus, kalau boleh tahu.

Ada proyek (Rachman menolak menyebut nama proyek yang sedang dikerjakannya). Saya datang ke sini untuk mengikuti pertandingan atas undangan Pak Lado. Saya ditelepon, kemarin, mau main tidak, ekshibisi melawan Hendrik Barongsay. Saya bilang tidak masalah. Saya siap, makanya saya ada di sini. Saya sampaikan terima kasih kepada panitia Kompol Akasa Rambing, kepada Hendrik Barongsay lawan saya, kepada Pak Lado, yang mengatur pertandingan.”

Dua legenda tinju pro; mantan juara WBC Asia Hendrik Barongsay 40 tahun dan mantan juara dunia IBF dan WBA Mohamad Rachman 51 tahun. (Foto: Finon Manullang)

Anda dibayar berapa untuk pertandingan melawan Hendrik Barongsay?

“Saya bertanding tidak dibayar. Ini hanya untuk memotivasi anak-anak muda. Saya ingin perlihatkan, orang setua kita masih bisa bertinju. Saya sudah kepala lima, tapi saya masih bisa naik ring, karena selalu menjaga kondisi.

Bagaimana menjaga kondisi?

Kalau saya menjaga kondisi, saya selalu pergunakan ilmu lama ketika masih bertinju bersama pelatih almarhum M Yunus di Akas Probolinggo, Jawa Timur. Saya disuruh lari keliling lapangan sampai 25 putaran. Itu yang saya lakukan dan terbukti bagus sekali untuk menjaga kondisi. Tetap fit di usia lima puluh satu.

Ketika menghadapi Hendrik Barongsay, yang jauh lebih besar dan lebih tinggi, saya masih bisa memperlihatkan teknik bertinju. Begini loh kalau mau melepaskan jab, straight, dan seterusnya. Tujuan saya di sini bagaimana anak-anak muda melihat teknik bertinju yang baik dan mau belajar. Hanya sebatas itu kontribusi saya untuk tinju.

Apa manfaat pertandingan tinju seperti di Kemayoran ini?

Bagus. Ini harus diteruskan. Daripada tawuran sampai bacok-bacokan dan ngebut di jalanan, lebih baik uji nyali di atas ring. Kalau dia bagus, bisa dilatih kemudian diarahkan supaya menjadi seorang petinju. Nanti daerahnya akan terangkat dan berbakti bagi bangsa dan negara, jika karir tinjunya melangkah sampai ke jenjang internasional. Siapa tahu, dari atas ring seperti ini lahir juara Indonesia, Asia, Dunia, bahkan Olimpiade.

Apa yang Anda lihat dari atas ring?

Tadi saya melihat, ada petinju amatir selain petinju pro, dasar kakinya belum apa-apa sudah naik ring. Tidak sempurna. Cara memukulnya juga belum waktunya naik ring. Harus diperbaiki lagi. Jab-straight harus lurus, jangan bengkok.

Waktu menghadapi Hendrik Barongsay, saya lebih aktif memperlihatkan teknik bertinju. Kita harus bisa memberikan contoh yang baik. Memberikan semangat agar tinju ke depan lebih bagus lagi. Semua orang ingin ada juara dunia baru dari Indonesia.

Bagaimana untuk menjadi seorang juara dunia tinju?

Disiplin. Dia harus disiplin dan patuh. Hormat kepada pelatih. Disiplin pada jam latihan. Disiplin istirahat. Jangan ketika hendak tidur malam masih terlibat bermain hp. Biasakan diri setelah jam sembilan berhenti pegang hp. Kalau main hp sampai larut malam, ini yang membuat dia malas bagun dan dia tidak akan menghasilkan apa-apa dari tinju.

Seorang petinju pro harus memiliki manajer yang baik. Jangan seperti saya dulu, tidak punya manajer. Sehingga tidak ada yang mengurus dan gelar juara dunia WBA yang saya miliki hilang di Jakarta, diambil oleh petinju Thailand.

Seorang amatir yang memilih tinju pro, dia harus bisa memastikan ikut dengan manajer yang kuat dan mempunyai sasana. Pastikan juga, di sasana itu ada pelatih yang bagus. Peran pelatih sangat penting dalam menuntun karir seseorang untuk menjadi juara dunia.

Tinju pro Indonesia sepi. Sepanjang tahun 2022, hanya ada lima pertandingan. Menurut pandangan Anda sebagai mantan juara dunia di dua versi, apa penyebabnya?

Kita tidak punya promotor. Kalaupun ada tidak seperti (mendiang Herry Sugiarto) A Seng. Cari promotor seperti A Seng sangat sulit. Ini harus kita akui.

A Seng tidak hanya kuat di uang tetapi jaringan. A Seng memiliki koneksi tingkat tinggi di badan tinju dunia.

Saat ini di ranking dunia empat besar (WBA, WBC, IBF, WBO) hampir tidak ada nama petinju Indonesia. Padahal, kita punya juara Asia Pasifik tapi tidak saya temukan nama mereka. Saya sudah cek peringkat dunia, tidak ada (nama petinju Indonesia).

Beda waktu era saya bersama Pak A Seng. Saya diantar sampai ke peringkat pertama dan akhirnya mandatory fight. Pada era A Seng lobi hebat. Beda dengan sekarang, sehingga tidak ada peringkat dunia.

Apakah tinju pro kita sudah kiamat?

Belum. Tetapi, hampir kiamat ya. Kita sudah tidak punya juara dunia. Kita habis.

Ada solusi, barangkali?

Saya mau terjun lagi sebagai promotor. Kalau saya terjun lagi, mungkin akan lahir petinju-petinju bagus. Kalau kita sudah punya petinju bagus, tinggal antar pasti juara.

Semudah itukah?

Tentu tidak. Tetapi, kalau kita sudah punya petinju bagus, kita tinggal menunggu promotor datang lalu mengorbitkannya.

Menjadi juara dunia itu di tangan promotor. Dari mana uang promotor? Di sinilah peran sponsor. Tinju pro akan jalan kalau sponsornya juga jalan. Kalau sponsor macet, ya seperti sekarang ini. Tinju pro kita macet.

Saya masih yakin bahwa teman-teman saya masih banyak yang mau support saya untuk terjun lagi sebagai promotor.

Bagaimana dengan rencana tinju Anda di Kota Padang, Sumatera Barat, 11 Maret mendatang. Sudah promosi ke mana-mana. Sudah gempar.

Sudah tutup buku. Sudah selesai sebelum pertandingan.

Maksudnya, berantakan?

Panitianya meninggal dunia. Lagipula, setelah kami kroscek, fasilitas kurang memadai. Akhrinya coba pindahkan ke Pekanbaru, Riau. Kami tunda menjadi 20 Mei.

Saya akan menggelar Sabuk Presiden. Saya ambil lawan untuk saya dari Thailand. Satu lagi petinju Indonesia tampil untuk gelar Asia melawan petinju Thailand.

Anda promotornya?

Ya. Saya promotor untuk pertandingan Sabuk Presiden di Pekanbaru.

Sudah izin kepada Yance Rahayaan? Sebab beliau adalah penggagas sabuk Presiden RI.

Ha ha ha …..! Saya kira, Bung Yance Rahayaan akan mendukung rencana kepromotoran saya. Ini untuk kemajuan tinju yang kita tunggu-tunggu. Semakin banyak promotor, semakin bagus untuk kita semua.

Finon Manullang, menulis dari Desa Tridayasakti, Tamsel, Jabar.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *