Press "Enter" to skip to content

Syamsul Anwar Menulis: Bertanding di Kandang Ayam

Rondeaktual.com

Lain lubuk, lain ikannya. Lain negara, lain pula caranya. Begitu pula kebiasaan suatu negara dalam mengemas pertandingan tinju. Amat berbeda dengan negara lain.

Kisah berikut saya ambil dari Kejuaraan Tinju Piala ASEAN di Filipina pada 1978. Pertandingan berlangsung di tiga lokasi; Manila, Baguio City, dan Cabanatuan.

Ketiga lokasi tersebut berjauhan dan berbeda adat penontonnya. Yang pasti penonton banyak yang berjudi atas pertandingan yang sedang berlangsung.

Cabanatuan, sebuah kota di pinggiran pantai, mirip kota Medan. Babak semifinal, hampir semua negara peserta terkejut melihat posisi lokasi tempat bertanding. Ada lapangan berbentuk bulat melingkar. Di tengahnya diletakkan ring tinju dan tempat duduk penonton juga melingkar. Tidak ada kursi penonton, yang ada beton melingkar bertingkat untuk tempat duduk penonton.

Ternyata lokasi tersebut biasa menjadi tempat sabung ayam. Sabung Ayam menjadi salah satu tempat bertaruh atau berjudi yang resmi di sana. Mirip dengan Thailand, di mana peraturan pemerintahnya membolehkan bertaruh atau berjudi pada pertarungan ayam dan juga pertandingan tinju.

Malam babak semifinal akan dimulai, kami terheran-heran melihat lokasi pertandingan. Juga dari negara lain, kecuali Thailand. Penonton ramai sekali dengan bahasa mereka. Kami mulai bingung ketika pertandingan akan dimulai. Begitu petinju diumumkan namanya, penonton mulai ribut. Tambah ribut ketika kedua petinju naik ring. Gong belum berbunyi, penonton sudah banyak berceloteh. Berdiri dan berbicara dengan orang di belakangnya atau yang di sampingnya. Jari-jari mereka menjepit uang. Ada dua atau tiga jarinya yang menjepit uang. Ternyata mereka bertaruh, siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Begitu petinju naik ke atas ring, taruhan pun berubah. Tetapi taruhan awal tetap terikat. Mereka melihat fisik kedua petinju dan mereka memperhitungkan siapa yang akan menang. Begitu ronde pertama usai, mereka ribut lagi saling menawar setelah mereka memperhitungkan kejadian ronde dua dan tiga. Ronde kedua usai mereka ribut lagi saling memberikan penawaran apa yang mungkin terjadi pada ronde ketiga.

Selain bertaruh siapa yang menang, mereka juga bertaruh KO atau tidak pada akhir pertandingan.

Begitulah sepanjang partai pertandingan berlangsung. Semua berhitung. Berhitung siapa yang akan menang dan yang akan kalah. Siapa yang KO atau RSC yang sama dengan TKO.

Kami bertanding ditonton oleh banyak mata, tetapi mata kami para petinju yang sedang tidak bertanding sibuk menonton mereka yang sedang bertaruh.

Tiba saatnya babak final di Baguio City, kami bertanding di gedung olahraga. Tetapi mereka yang bertaruh tetap mengikuti kami dan sudah tahu siapa kami.

Ketika saya kalah melawan petinju Thailand, mereka kecewa berat. Karena dua pertandingan sebelumnya saya selesaikan dengan KO.

Saya jelaskan kepada mereka, bahwa saya minum air PAM, ketika topan Rita dengan kecepatan 180 KM/jam datang. Air PAM tak jalan tapi ada sedikit saya minum. Akibatnya saya kena diare dan harus beberapa pergi ke toilet.

Air PAM di sana jika normal memang untuk diminum langsung. Tetapi mereka tidak suka kalau saya minum air PAM.

Para petaruh itu berkata: “Mengapa tidak kau ceritakan sebelumnya, supaya kami tidak menjagakan dirimu.”

Saya memang menjadi calon petinju terbaik waktu itu. Tetapi saya lemah akibat diare.

Dari kejadian tersebut baru saya mengerti bahwa olahraga tinju menjadi arena bertaruh yang menarik buat mereka. Selain bisa beruntung mereka juga bisa menikmati jalannya pertandingan.
Salah satu yang membuat prestasi tinju amatir dan profesional maju dan berkembang di Filipina dan Thailand adalah pasar bertaruh mereka pada setiap pertandingan.

Saya tidak mengatakan mereka dapat uang dari pertaruhan, tetapi para petaruh yang menang sering memberikan bonus kepada petinju yang menang.

Di Thailand ada tradisi sebelum pertandingan dimulai, penonton diberikan kesempatan memberikan hadiah kepada petinju yang akan bertanding. Bahkan ada yang mendapat ratusan gram atau kiloan emas dalam bentuk kalung yang diberikan simpatisannya pada setiap pertandingan karena dia adalah sang juara idaman mereka.

Kembali ke Cabanatuan City, pertama kali dalam sejarah karir bertinjuku, harus bertanding di kandang ayam. Walau kandangnya besar, tetapi tetap kandang ayam.

Salam dari kampungku nun jauh di sana, buat kawan-kawanku pencinta tinju Tanah Air. Sampai jumpa pada tulisan berikut.

Syamsul Anwar Harahap, juara Asia kelas welter ringan 1977, menulis dari Desa Lantosan, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *