Press "Enter" to skip to content
Pertarungan yang sangat bersejarah antara Ellyas Pical (kiri) versus Khaosai Galaxy. Wasit Ken Morita menghentikan pertandingan pada ronde 14, Stadion Utama, Jakarta, Sabtu, 28 Februari 1987. (Foto: FB/Dok)

Finon Manullang [12] – Galaxy-Pical Termahal dan Terbesar

BUKU PERJALANAN TINJU INDONESIA – Tulisan berjudul “Galaxy-Pical Termahal dan Terbesar” merupakan tulisan ke-12 dari buku tinju Finon Manullang (halaman 33, 34, 35, 36). Ikuti terus tulisan yang sangat bersejarah bagi olahraga tinju Tanah Air. Semoga bermanfaat.

KHAOSAI GALAXY VERSUS ELLYAS PICAL

World Boxing Association World Super Fly Title

Gelar dunia WBA kelas terbang super atau sama dengan kelas bantam yunior, 52.163 kilogram/115 pon.

Juara: Khaosai Galaxy, southpaw, Thailand, 27 tahun (kelahiran Petchaboon, 15 Mei 1959). Rekor menang-kalah 29-1 (26 dengan KO).

Penantang: Ellyas Pical, southpaw, Indonesia, 29 tahun (kelahiran Ulath, Saparua, 24 Maret 1957). Rekor menang-kalah 14-2 (10 dengan KO).

Tempat pertandingan: Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Waktu: Sabtu, 28 Februari 1987, pukul 16.00 WIB.

Tiket VIP Rp 75.000.

Promotor: Kurnia Kartamuhari, menampilkan tontonan spektakuler tinju dunia kolaborasi dengan musik dangdut.

Ofisial ring: Komisi Tinju Indonesia.

Supervisor: Elias Cordova (Panama).

Wasit: Ken Morita (Jepang).

Hakim Yong Soo Chung (Korea Selatan), 129-125 untuk Galaxy.

Hakim Larry Rozadilla (Amerika Serikat) 128-123 untuk Galaxy.

Hakim Takeshi Shikmakawa (Jepang) 129-123 untuk Galaxy.

Hasil: Galaxy menang TKO pada ronde 14, sekaligus sukses lima kali mempertahankan gelar juara dunia tinju versi WBA kelas bantam yunior.

Galaxy-Pical Termahal dan Terbesar

Inilah pertandingan terbesar sepanjang sejarah tinju Tanah Air, antara southpaw Khaosai Galaxy (Thailand) versus penantang southpaw Ellyas Pical (Indonesia). Berlangsung dalam perebutan gelar juara dunia WBA kelas terbang super atau sama dengan kelas bantam yunior, 52.163 kilogram/115 pon, di atas lapangan rumput Stadion Utama Senayan, Jakarta, Sabtu sore, 28 Februari 1987, pukul 16.00 WIB.

Pertandingan itu digambarkan sebagai super fight terbesar dunia sepanjang tahun 1987. Menghabiskan uang hampir satu miliar. Media menyebutnya sebagai pertandingan tinju termahal.

Bisa jadi begitu. Termahal di Indonesia. Ketika Pical menantang Khaosai Galaxy, belum ada pertandingan tinju yang menghabiskan uang sebanyak itu.

Disebut terbesar karena dua juara dunia di kelas yang sama, kelas bantam yunior, 52,163 kilogram/115 pon, bertarung di dalam satu ring. Juara dunia WBA asal Thailand, southpaw Khaosai Galaxy ditantang juara dunia IBF asal Indonesia, southpaw Ellyas Pical.

Dalam kontrak pertandingan bersama promotor Kurnia Kartamuhari, Galaxy dan Pical dibayar sama US$ 150.000.

Meski sama-sama juara dunia, ini bukan unifikasi, bukan untuk penyatuan gelar WBA dan IBF. Gelar dunia IBF milik Elly tidak dilibatkan.

Beda dengan era sekarang di mana badan tinju dunia lebih terbuka dan mau kerja sama. Jika seorang juara bertanding dengan juara dari versi lain, maka sudah pasti untuk pertandingan unifikasi atau penyatuan gelar. Ketika juara WBC dan WBO Naoya Inoue (Jepang) bertarung melawan juara WBA Super dan IBF southpaw Marlon Tapales (Filipina) di Ariake Arena, Tokyo, Jepang, 26 Desember 2023, pertarungan terlaksana untuk unifikasi kelas bulu yunior.

Dua pekan menjelang superfight Galaxy-Pical, penulis sudah meninggalkan ruang kerja Redaksi.

Di era itu, aku sudah berkarya melalui Majalah Tinju Indonesia, yang berkantor di Jalan Kalikepiting, Surabaya. Tinju Indonesia –milik juara kelas berat PON VII Setijadi Laksono—merupakan satu-satunya majalah yang secara spesifik mengangkat berita tinju. Isi majalah 50% tentang tinju pro dalam negeri, 30% tinju amatir (baca Pertina), 20% tinju luar negeri. Sejak dahulu sampai sekarang, entah mengapa aku lebih suka menulis tinju Indonesia, bukan tinju luar negeri.

Kereta malam kelas murah dari Stasiun Pasar Turi mengantar aku ke Stasiun Jatinegara. Tiba pukul 03.15 WIB.

Setelah dua hari di Jakarta, aku pergi mengunjungi tempat latihan Ellyas Pical di daerah Lebakbulus, Jakarta Selatan, atas informasi dari pelatih Kairus Sahel.

Kunjungan kurang memuaskan, karena gagal bertemu dengan raja dangdut Haji Rhoma Irama bersama istrinya Ricca Rachim.

Bang Haji sangat mendukung Elyas Pical. Raja Dangdut tak tersamai itu konser di laga Ellyas Pical dengan Khaosai Galaxy.

Pelatih Kairus Sahel menjelaskan, kehadiran Bang Haji Rhoma Irama sebagai salah satu jalan memotivasi Ellyas Pical saat menghadapi Raja KO dari Thailand, Khaosai Galaxy. Kairus Sahel adalah pelatih ketiga Ellyas Pical di tinju pro, setelah Pontas Simanjuntak dan diteruskan Simson Tambunan.

Sebelum menghadapi Ellyas Pical, Khaosai Galaxy telah memenangkan lima kejuaraan dunia WBA kelas bantam yunior. Semua KO. Luar biasa.

Galaxy merebut gelar lowong WBA kelas bantam yunior di Bangkok, tahun 1984, memukul KO ronde keenam Eusebio Espinal (Republik Dominika). Setelah itu, Galaxy mempertahankan gelar juara dunianya dengan memukul KO pada ronde ketujuh Dong Chun Lee (Korea Selatan), memukul KO ronde kelima Rafael Orono (Venezuela), memukul KO ronde kedua Edgar Monserrat (Panama), dan memukul KO ronde kelima Israel Contreras (Venezuela).

Ellyas Pical memenangkan empat kejuaraan dunia IBF dan sekali kalah. Pical memukul KO ronde kedelapan Jo Do Chun (Korea Selatan), menghentikan langkah Wyne Mulholland (Australia) pada ronde ketiga, kalah angka dalam pertarungan lima belas ronde melawan Cesar Polanco (Republik Dominika), memukul KO ronde ketiga Polanco dalam tanding ulang langsung, dan memukul KO ronde kesepuluh Dong Chun Lee (Korea Selatan).

Data tersebut membuat pasar taruhan di luar negeri menempatkan Galaxy favorit mengalahkan Pical. Tetapi tidak di dalam negeri, sejumlah pengamat menjagokan petinju tuan rumah.

Para bandar mencoba bermain dengan melibatkan tim gelapnya (terdiri dari tokoh tinju dan mantan petinju). Sengaja manuver dengan menjual komentar bombastis. Herannya, ada media seolah berlomba-lomba menurunkan tulisan yang menggiring opini pembaca agar memilih salah satu petinju.

Berita rencana pertarungan Galaxy-Pical sangat ramai. Ada koran yang sengaja bermain untuk menggoyang pasar taruhan.

Tiket termurah dijual Rp 5.000 tetapi menjadi dua kali lipat ketika orang terdesak dan harus membelinya dari tangan makelar. Tiket termahal Rp 125.000, duduk enak dekat ring.

Ketika timbang badan di lantai dasar Hotel Indonesia, Galaxy overweight hampir dua kilogram. Pical in. Semua bersorak. Tanda kemenangan sudah di depan mata.

Ternyata bukan begitu. Galaxy tidak pernah overweight. Ia sengaja mengarang kelebihan berat sebagai taktik untuk mengelabui kubu lawan.

ELLYAS PICAL BERDARAH

Pertandingan buka pukul 16.00 WIB, di atas lapangan rumput Stadion Utama Senayan. Stadion terbesar.

Galaxy, 27 tahun, memulai ronde dengan menjaga jarak. Setengah menyerang. Setengah bertahan. Dia sangat disiplin mempertahankan gaya kidal asli.

Galaxy membiarkan Pical masuk dengan long hook kiri yang dahsyat. Kepalan Galaxy yang terkenal liar dan mematikan tidak terlihat. Sengaja menerapkan strategi bertahan. Dia sangat defensive.
Sampai ronde ketiga, Pical masih di atas angin dan sudah unggul angka. Penonton berapi-api dan sangat menyukai gaya kidal petinju asal Ulath, Saparua.

Memasuki ronde keenam, Galaxy tidak lagi bermain defensive. Tidak lagi membiarkan lawan masuk. Pukulan telak dan beruntun membuat Pical sangat kewalahan. Pemandangan di atas ring sudah berubah. Sang juara WBA sudah dapat mengukur kekuatan lawan.

Ronde 13, tiba-tiba wasit Ken Morita (Jepang) menghentikan pertandingan. Ternyata ada darah menetes dari pelipis yang terluka. Morita menghapus darah yang membasahi muka Ellyas Pical dan “box”.

Galaxy maju dan terus memukul secara bergantian tangan kiri dan tangan kanan. Situasi sudah tidak berimbang. Galaxy bertarung seperti petinju yang baru saja memulai ronde, tanpa ngos-ngosan. Kondisinya sangat prima.

Sementara, Ellyas Pical sudah habis-habisan. Ia bertarung dengan sisa tenaga yang sangat terbatas.

Ronde 14, wasit menghentikan pertandingan dan membawa Ellyas Pical ke sudut netral untuk diperiksa oleh dokter pertandingan. Lebih 30 detik (biasanya paling lama 10 detik) dr. Harry Purnomo membersihkan muka Ellyas Pical kemudian memberikan jempol kanannya kepada wasit sebagai tanda jalan terus.

Galaxy langsung mengejar Pical dan melepaskan setidaknya 17 pukulan beruntun tanpa balas. Ellyas Pical bertahan habis-habis agar tidak jatuh mencium kanvas ring dan tetap berdiri di sudut netral.

Wasit Ken Morita datang dan menghentikan serangan beruntun. Dia mulai menghitung Ellyas Pical, meski tidak terjatuh. Wasit terpaksa melakukan hitungan berdiri demi menyelamatkan Ellyas Pical. Padahal, tinju pro melarang memberlakukan standing count.

Malam itu merupakan pemandangan yang sangat dramatis. Wasit tetap meneruskan pertandingan. Galaxy melepaskan 11 pukulan dan lagi-lagi tanpa balas. Wasit masuk ke tengah dan melambai sebagai tanpa tidak ada lagi pertandingan. Saat itulah Pical jatuh lemas di sudut biru, sudutnya sendiri. Wajahnya bersimbah darah akibat alis yang robek. Berdarah-darah.

PARTAI TAMBAHAN

Kelas terbang mini 10 ronde: Eric Chavez (Filipina) menang KO-5 atas Udin Baharuddin (Pirih Surabaya, Indonesia).

Kelas bulu 10 ronde: Noce Lukman (Cakti Jakarta, Indonesia) menang angka atas Lulu Villaverde (Filipina). Noce tampil luar biasa, memukuli lawan sampai berdarah-darah.

Kelas welter yunior 8 ronde: Bongguk Kendy (Garuda Jaya, Indonesia) menang KO-6 atas Boy Romero (Filipina). Bongguk menjadi bintang baru.

Kelas bulu 8 ronde: Marthen Kasangke (Tonsco Jakarta, Indonesia) menang angka atas Bert Pucay (Filipina). Marthen, mantan sparring partner Ellyas Pical, tampil menawan. Serangan kidalnya banyak mendarat di muka lawan.

Kelas bantam yunior 8 ronde: Yossi Amnifu (Cakti Jakarta, Indonesia) draw melawan Joseph Ladepi (Filipina).

Finon Manullang, menulis dari Desa Tridayasakti, Jawa Barat.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *